BORNEONEWS, Palangka Raya - Murahnya harga daging babi di pasaran saat ini menjadi dua mata pisau bagi masyarakat luas sebagai pembeli, dengan para peternak babi yang dihantui penyakit ASF.
"Satu sisi masyarakat pembeli senang karena bisa membeli harga daging babi dengan terjangkau, sisi lainnya peternak harus mengambil kebijakan untuk menjual ternaknya lebih awal dengan harga yang tidak terlalu menguntungkan," kata Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak, pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno pada Jumat, 19 Januari 2024.
Kondisi ini menurut Ganjar terjadi karena penyakit ASF kembali menyelimuti dunia peternakan babi di Palangka Raya sejak Desember 2023.
"Kalau babi masuk dari luar daerah itu tidak terlalu banyak, jadi turunnya harga daging babi ini bukan karena stok dari luar daerah melimpah, bukan. Ini karena ASF," tutur dokter hewan ini.
Ganjar mendapati komentar bersyukur dari masyarakat yang kembali dapat membeli daging babi lantaran telah turun harga dari Rp120.000 menjadi Rp100.000 per Kg.
--page
"Hal ini karena mungkin banyak masyarakat peternak kita yang menjual babi karena gejala penyakit ASF beberapa waktu terakhir mulai muncul kembali. Melihat dari hal tersebut ada kemungkinan masyarakat menjual babinya daripada tidak tertolong. Analisa sementara demikian," bebernya. (TESTI PRISCILLA/j)









