TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Anggota DPRD Barito Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, Wahyudinnor, meminta agar RSUD Tamiang Layang diaudit demi mengetahui persis penyebab berbagai permasalahan yang dikeluhkan pasien maupun tenaga kesehatan.

"Terkait dengan kekosongan obat itu kami berharap memang harus diadakan audit memang ya. Apa yang menjadi permasalahannya sehingga sehingga obat itu bisa kosong," kata Wahyudinnor kepada Borneonews, Jumat, 19 Januari 2024.

Dia melanjutkan, jika informasi dari sumber internal RSUD Tamiang Layang bahwa penyebab kekosongan obat karena rumah sakit memiliki hutang obat di distributor sehingga distributor tidak mau memasok obat, maka harus diperiksa apa penyebab Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) rumah sakit milik Pemkab Barito Timur itu tidak mampu membayar hutang obat.

"Apa yang menjadi sumber penyebabnya? Apakah memang penghasilan BLUD itu tidak mampu untuk menutupi hutang obat atau ada hal-hal lain yang menyebabkan utang obat di distributor tidak terbayarkan? Atau ada efektivitas dan efisiensi yang kurang tepat sehingga pelayanan utama yang berkaitan dengan masalah obat tidak menjadi prioritas. Istilahnya dilakukan audit investigasi-lah," kata Wahyudinnor.

Politisi PKB ini mengaku sebelumnya gabungan komisi di DPRD juga sudah berkunjung ke RSUD Tamiang Layang dan beraudiensi dengan Direktur RSUD serta Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur mempertanyakan jasa medik tahun 2023 yang belum dibayarkan.

--page

"Pada saat itu saya juga mempertanyakan salah satunya masalah jasa medik yang yang belum dibayarkan, cuma lebih fokus masalah obat juga saya sampaikan tadi," akunya.

Diketahui, RSUD Tamiang Layang saat ini dalam kondisi darurat karena stok berbagai jenis obat kosong. Kondisi ini dibenarkan oleh sumber terpercaya di internal RSUD Tamiang Layang.

"Sudah nggak kehitung (jenis obat yang kosong), cuman salep kudis , panu aja yang mungkin masih banyak," kata sumber tersebut.

Borneonews mendapatkan tangkapan layar percakapan dokter dan perawat yang begitu putus asa dengan kondisi ini karena harus membatasi suntikan infus untuk setiap pasien atau bahkan obat yang diresepkan kosong sama sekali di farmasi rumah sakit.

Sumber Borneonews menjelaskan, kondisi logistik RSUD Tamiang Layang semakin parah karena banyak distributor yang tidak mau memasok obat ke RSUD Tamiang Layang akibat hutang obat yang belum dilunasi.

--page

"Sejak adanya surat keputusan akreditasi RS kemarin, yang pegang masalah obat langsung di tangani direktur (RSUD), bukan bidang yanmed atau farmasi lagi," ungkapnya.

Sumber itu juga menuding direkturnya lebih banyak melakukan perjalanan keluar bersama beberapa bawahan dibandingkan berada di kantor dan membenahi kondisi pelayanan kesehatan yang buruk.

Keterangan sumber internal RSUD Tamiang Layang tersebut selaras dengan hasil investigasi Borneonews selama tiga hari di RSUD Tamiang Layang.

Ketika Borneonews mencoba meminta keterangan semua pasien dengan jenis penyakit yang berbeda, Borneonews mendapatkan keterangan yang seragam bahwa mereka diberi resep oleh pihak farmasi RSUD Tamiang Layang untuk menebus obat di luar karena obat tersebut kosong.

Selama tiga hari penelusuran itu Borneonews mendapati bahwa setiap hari keluarga pasien diminta untuk menebus obat tertentu di luar rumah sakit.

--page

Pengakuan memilukan kadang Borneonews terima dari pasien karena obat yang harus dibeli di luar juga tidak tersedia di apotek atau tokoh obat.

Borneonews telah menghubungi Direktur RSUD Tamiang Layang Vinny Safari melalui pesan Whatsapp dan mengajukan poin-poin pertanyaan untuk menanggapi keluhan dari internal RSUD Tamiang Layang maupun kekosongan obat yang diakui oleh pasien-pasien yang diwawancarai Borneonews, namun hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan dari Vinny. (BOLE MALO/H)