PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng baru-baru ini menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka riset smart farming system.

Dikutip dari laman resminya, BRIN mengklaim smart farming menjadi pendukung teknologi yang penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, seperti air dan pupuk.

Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sensor dan pemantauan secara real-time sehingga dapat meminimalisir limbah, menghemat biaya produksi, dan berkontribusi nyata pada pertanian
berkelanjutan.

“Salah satu potensi terbesar dalam aplikasi smart farming adalah
efisiensi dalam penggunaan sumber daya melalui pemanfaatan teknologi
smart salah satunya sensor dalam pemantauan secara real time,” sebut
Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan
Utami masih di laman yang sama, diakses Minggu, 20 Januari 2024.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya PRHP BRIN, Joko Pitono menjelaskan
smart farming merupakan konsep pertanian yang menggunakan teknologi
digital dan informasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan
keberlanjutan dalam produksi tanaman dan peternakan.

--page

"Kita membutuhkan aplikasi smart farming karena adanya trend semakin
menyusutnya SDM pertanian di pedesaan yang bermigrasi ke perkotaan,”
tuturnya.

Kemudian yang kedua adalah untuk mengatasi isu ketahanan pangan,
dimana indeks ketahanan pangan Indonesia sekitar 59,5 sehingga
membutuhkan peningkatan produktivitas pertanian yang signifikan.

Ketiga adanya isu DPI yang menstimulir peningkatan intensitas cekaman
biotik/abiotik. Keempat adalah adanya isu pengurangan lahan pertanian
akibat konversi ke fungsi di luar pertanian yang mencapai kisaran 132
ribu ha/tahun.

Desain aplikasi smart farming adalah kompleks sehingga memerlukan
keterlibatan dan sinergi dari berbagai bidang kepakaran seperti
elektro, fotonik, agronomi fisiologi, hama penyakit, agroklimat,
tanah, dan mekatronika.

Sedangkan smart farming yang berbasis Internet of Thing (IoT)
memerlukan dukungan cloud server yang ditunjang oleh beberapa unit
untuk proses monitoring parameter penting, big data & analitik,
kontrol manajemen dan aktivasi aktuator.

Aplikasi smart farming untuk pengaturan input produksi tanaman
contohnya untuk irigasi, aplikasi hara, penyiapan lahan, pengendalian
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), pencahayaan, iklim mikro, panen,
dan evaluasi hasil. (HERMAWAN DP/Y)