BORNEONEWS, Palangka Raya - Wakil Walikota Palangka Raya Mofit Saptono Subagio dan sebagian dari rombongan pejabat membeberkan kronologis dan hasil perjalanan dinas luar negeri, di ruang PK I Balaikota., Selasa (10/5). Kronologis bermula sejak kedatangan, hingga pulang, termasuk agenda full holiday (liburan sehari penuh) di Negeri Sakura, Jepang.
Ia juga meluruskan informasi bahwa yang mengikuti kunjungan ini bukan 11 orang, melainkan 12 orang termasuk isterinya. Namun ia tak mau membeberkan berapa anggaran dari APBD yang dihabiskan untuk keberangkatan negoisasi bantuan hibah kendaraan bekas itu.
Saat didesak, Mofit hanya mengungkapkan pendanaan berasal dari belanja dinas dari setiap SKPD pejabat yang ikut. Begitupun saat dikonfirmasi mengenai keikutsertaan sang istri dalam lawatan, dia menilai sah-sah saja. Hanya mengenai biaya dari mana, ia menyebut 80% saja yang dibiayai dinas.
"Sah-sah saja ikut, itu tidak menyalahi aturan dinas. Lihat Presiden dan Wapres, yang dampingi kan isterinya masing-masing saat lawatan, itu dibiayai negara. Dan yang penting, status dia kan istri sah saya. Dia dibiayai dinas, tapi cuma 80% saja," bantah Mofit.
Menyikapi banyaknya pejabat Pemkot yang ikut tapi tidak ada kaitan langsung dan korelasinya dengan negoisasi hibah, mantan dosen Unpar ini menampik tudingan itu. Alasan dia, semua berkorelasi dan banyak yang diajak karena berdasarkan hasil korespondensi yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya antara Pemkot dengan pihak Ehime Toyota sebagai pengundang.
Sementara Walikota Riban Satia, pun berkilah tidak semua dari 12 pejabat yang ikut itu dibiayai dinas. Ada sebagian yang biaya sendiri. Tetapi saat didesak berapa jumlah pejabat yang berangkat atas biaya sendiri, baik Riban maupun Mofit tidak mau membeberkan. Ia mengalihkan jawaban kepada kepala BPBD Anwar Sanusi Umarnur untuk menjawab kerena sebagai kordinator keberangkatan. Tetapi Anwar pun terdiam enggan menjelaskan.
Masalahnya, pernyataan di atas bertolak belakang dengan sumber lain. Salah seorang dari 12 pejabat yang ikut justru menyebutkan semuanya pergi menggunakan biaya dinas. Tidak ada yang mandiri kecuali istri Mofit yang mengeluarkan biaya 20% menutupi sisa yang tidak ditanggung dinas.
Sementara disisi lain penelusuran wartawan, tiap orang dibiayai dinas Rp68 juta. Praktis jika dikalikan, perjalanan ke-12 org itu menghabiskan dana APBD sekitar Rp800 juta lebih.
Ke-12 pejabat Pemkot yang bertolak ke Jepang itu adalah Mofit mengajak istrinya, Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Perumahan (Disciptarum) Rojikinnor juga bersama istrinya, Nyta Byanita Rezza yang juga kepala BKPP Kota Palangka Raya. Lalu Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Anwar Sanusi yang mengajak stafnya, Adrianson.
Berikutnya adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Rawang, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tiur Simatupang , Kepala Diskoperindag Sahdin Hasan, Kepala BPKD Fordiansyah , Kepala Balitbang Kaspinor, dan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Ikhwansyah.
Dalam laporan tertulis mereka mengklaim ada beberapa hasil penjajakan, selain bantuan empat unit pemadam kebakaran dan satu unit ambulan yang pada 15 Mei diberangkatkan menuju pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, di antaranya kerjasama riset, teknologi pertanian, serta pendidikan. (MUCHLAS ROZIKIN/m)


