BORENONEWS, Palangka Raya - Menjelang bulan suci Ramadhan, pertukaran uang di masyarakat menjadi kian pesat. Terlebih menjelang lebaran. Meningkatnya peredaran uang di masyarakat menimbulkan kekhawatiran akan beredar pula dengan marak uang palsu di masyarakat.

Meskipun selama ini tingkat peredaran uang palsu di Provinsi Kalimantan Tengah relatif sangat kecil, namun Bank Indonesia tak mau berpangku tangan.

Deputi Kepala Perwakilan Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Intern Harif Winanto mengungkapkan dalam waktu dekat pihaknya akan melaksanakan sosialisasi penindakan kejahatan di bidang peredaran uang palsu.

"Ini sedang direncanakan, supaya bisa memutus peredaran upal ini. Kalteng belum ada produsen uang palsunya, kelihatannya hanya imbas dari luar. Bawaan dari daerah lain. Tapi kita juga tidak bisa diam-diam saja," ungkap Harif kepada BorneoNews, Selasa (10/5/2016).

Selama 2015, lanjut Harif, upal yang ditemukan BI baik dari serahan masyarakat dan bank maupun dari kasus yang terungkap oleh pihak kepolisian, ditemukan ada 1.092 lembar uang palsu.

"Paling banyak kasusnya di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, ya. Sebanyak 70 persen pecahan besar, 20 ribu ke atas, sisanya pecahan kecil," jelasnya.

Sementara pada 2016 ini hingga akhir April 2016, ada 111 lembar uang palsu yang ditemukan dan semuanya dalam pecahan besar.

"Kami harap masyarakat lebih berhati-hati saat bertransaksi terlebih menjelang puasa ini saat peredaran uang semakin meningkat. Jika ditemukan uang palsu laporkan ke kami, BI, atau langsung ke kepolisian agar cepat ditindak," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/m)