BORNEONEWS, Sampit - Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur terus berupaya menekan angka gizi buruk. Hasil pendataan menunjukkan masih ada balita mengalami stunting atau tubuh pendek karena kekurangan gizi.
“Penyebab stunting pada bayi dipengaruhi asupan gizi pada masa kandungan. Sebab kebutuhan gizi bagi ibu hamil lebih besar dibandingkan dengan perempuan pada umumnya," kata Kepala Dinkes Kotim Faisal Novendra Cahyanto, Rabu (11/5/2016).
Menurutnya, kebutuhan atau asupan gizi pada ibu hamil sangat penting demi kesehatan si ibu dan janin. Paling tidak ibu hamil membutuhkan 2150-2250 kalori perhari. Di samping itu juga dibutuhkan kalsium dan protein serta vitamin lainnya sehingga asupan gizi memadai.
"Artinya harus seimbang, tidak kurang atau berlebihan. Sebab, jika kurang maka akan berdampak pada organ tubuh anak yang dikandung seperti bayi atau balita mengalami stunting,” jelas dia.
Faktor kurangnya asupan gizi ibu hamil dilatarbelakangi berbagai hal seperti faktor ekonomi dan ketidaktahuan ibu hamil atas kebutuhan asupan gizi selama mengandung. Pengetahuan ibu akan pentingnya gizi kandungan sangat penting. Kesibukkan ibu bisa menjadi faktor peyebab terjadinya stuting pada anak.
"Bisa karena ibu terlalu sibuk, sehingga tidak mau memberi air susu ibu (ASI) secara ekslusif pada bayinya. Padahal untuk mendapatkan gizi yang ideal, bayi harus diberi ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, baru bisa diberi makanan pendamping ASI," ujar Faisal.
Menurutnya, Pemkab Kotim telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang kewajiban memberikan ASI eksklusif. Melalui perda ini kebutuhan ibu hamil dan menyusui lebih diperhatikan, karena kesehatan ibu berpengaruh besar terhadap kesehatan anak.
"Pengetahuan akan asupan gizi untuk ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan lainnya akan terus disosialisasikan. Kami juga terus menyosialisasikan agar kantor pemerintahan, mall dan lainnya memiliki ruang pojok ASI," kata Faisal. (RIFQI/m)


