BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah diminta memperhatikan kondisi sejumlah ruas jalan di Kota Palangka Raya yang mulai rusak akibat bertahun-tahun tak ada perbaikan. Selain itu persoalan banjir di musim hujan akibat buruknya sistem pengairan juga harus menjadi skala prioritas.


Beberapa titik jalan yang rusak seperti di Jalan Rajawali, Jalan Paus, Jalan Sapan, Jalan Bapuyu, di Kelurahan Marang, di Kelurahan Bukit Pinang. Selain berlubang, aspal jalan sudah mulai mengelupas.


Sementara itu di Jalan Bapuyu, ibu-ibu rumah tangga menyisihkan uang dapurnya demi membeli material untuk menimbun jalan yang rusak, agar sedikit lebih nyaman dilalui. Padahal lokasi itu hanya berjarak kurang lebih satu kilometer dari Kantor Wali Kota Palangka Raya dan DPRD Kota Palangka Raya.


“Kami mulai enggan lewat Rajawali karena motor atau mobil saya sering rusak,” ungkap Heribertus (43), warga Tingang, Palangka Raya, Rabu (11/5/2016). Hal yangs ama disampaikan beberapa warga lainnya.


Sementara itu di Kelurahan Petuk Katimpun Kecamatan Bukit Batu, warga sudah menunggu selama 15 tahun agar satu-satunya akses keluar bisa diaspal. Terdapat 500 jiwa yang bergantung pada jalan tersebut. Dari pusat kota menuju kelurahan tersebut hanya berjarak 15 kilometer.


“Jadi kalau mau jual hasil tangkapan dan hasil bumi harus pakai kelotok ke kota karena jalan yang sering tertutup air,” ungkap Abdullah (38), warga Katimpun Bawah, di Palangka Raya, Minggu (8/5/2015).


Jalan tersebut sama sekali tidak bisa digunakan ketika hujan lebat datang. Jalanan tertutup, warga yang datang dari dan ke kelurahan terpaksa menggunakan kelotok dan menyimpan kendaraan bermotor miliknya di kolega mereka.


“Selama 15 tahun kami sudah sering sampaikan di musrenbang, tetapi hasilnya nihil. Padahal, dahulu saat pemilihan hampir semua calon wali kota yang datang berkampanye selalu menjanjikan jalan,” ungkap Ketua RT 01/RW01 Petuk Katimpun Iyul (48).


Menurut Iyul, Petuk Katimpun merupakan daerah pinggiran yang kerap dilupakan pemerintah. Tidak banyak bantuan yang datang, warga pun serasa terisolir. Bahkan, dari 200 kepala keluarga di RT 01 hanya satu rumah yang memiliki jamban.


“Kami sudah bosan meminta ke pemerintah, beberapa saat lalu kami membuat sendiri jembatan agar saat hujan datang jalan masih bisa digunakan, tetapi itu tidak akan bertahan lama,” tambah Iyul.


Warga Kelurahan Bukit Pinang Kecamatan Pahandut juga mengeluhkan hal yang sama. Bahkan warga beberapa waktu lalu sempat menanami pohon pisan di badan jalan sebagai bentuk protes.


Sementara persoalan banjir juga menjadi permasalahan warga di beberapa lokasi.  Jika hujan deras biasanya tergenang akibat buruknya sistem pengairan. (RONI SAHALA/m)