BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Lazimnya jelang dan saat bulan Ramadan beberapa tahun belakangan ini, keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) selalu marak di tempat keramaian. Biasanya pasar wadai Ramadan atau pasar tradisional menjadi target mereka dengan menunjukkan mimik menyedihkan agar warga menjadi iba dan memberikan uang kepada mereka.

Terkait hal ini Kepala Satpol PP Kobar Hasan Basri kepada Borneonews, Kamis (12/5/2016) menjelaskan berkaca pada pengalaman beberapa tahun lalu, maka penindakan terhadap para gepeng akan semakin digiatkan selama Ramadan dan jelang Hari Idul Fitri.

"Selain itu, kita juga akan menindaklanjuti laporan warga terkait kegiatan gepeng di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa kali kami mendapatkan laporan tentang hal ini. Pasalnya gepeng ini seluruhnya berasal dari daerah lain yang hanya menjadikan Kabupaten Kobar sebagai tempat mengemis belaka," jelasnya.

Ia juga mensinyalir keberadaan pengemis tersebut datang ke Kobar secara terorganisir. "Namun bila ada yang tertangkap oleh Satpol PP mereka mengaku bekerja sendiri. Bahkan tidak ada satupun yang mau mengatakan dimana mereka menginap selama di Kobar," jelasnya.

Karena itulah ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberikan uang kepada para gepeng yang marak keberadaanya jelang dan selama Ramadan.

"Karena wajah memelas tersebut itu merupakan cara mereka beraksi untuk menarik simpati masyarakat, sehingga memberikan uang  kepada para pengemis tersebut. Dalam beberapa kali penertiban yang dilakukan, kami sering menemukan uang dalam nominal besar yang disimpan para gepeng tersebut dari hasil mengemis," jelasnya.

Bahkan, lanjut Hasan, jutaan rupiah uang hasil mengemis seringkali dikirimkan mereka ke kampung halaman melalui rekening bank.

"Dari pengakuan para gepeng tersebut saat diperiksa penyidik satpol PP, di kampung halaman para gepeng tersebut bahkan mampu membeli rumah dan tanah serta kendaraan," ujarnya. (WAHYU KRIDA/m)