BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berbagai pertanyaan dilontarkan peserta Diskusi Terbuka "Kolaborasi Akal Sehat Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat" dengan narasumber Rocky Gerung di GOR Pangeran Ratu Alamsyah, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu, 3 Februari 2024.
Menurut Rocky Gerung, saat menyampaikan paparannya, Pemilu di Indonesia yang berlangsung jujur dan adil hanya terjadi 1 kali yaitu pemilu pertama tahun 1955.
"Karena saat dilangsungkan pemilu pertama tersebut, tidak seperti saat ini. Saat itu, ralyat yang memberikan suaranya percaya pada seluruh petugas pelaksanaan pemilu. Jadi setelah memberikan suaranya, rakyat langsung pulang saja. Lantaran sudah tercipta trust atau kepercayaan pada pelaksana pemilu dan peserta pemilu," jelasnya.
Sedangkan saat ini, menurut Rocky Gerung, pada pelaksanaan pemilu pengamanan dilakukan secara besar-besaran, dan setiap caleg, partai peserta pemilu, hingga calon presiden berlomba -lomba mengirimkan saksi di setiap TPS.
"Artinya adalah ada rasa ketidak percayaan pada pelaksanaan pemilu tersebut. Sehingga diperlukan adanya saksi dari masing-masing caleg, partai politik hingga calon presiden untuk membuktikan kemenangannya dan apakah ada kecurangan," jelasnya.
Usai kegiatan saat ditanyai wartawan bagaimana peluang pemilu kali ini berlangsung jujur dan adil (jurdil), terkait pencalonan wapres dari calon 02 serta masih belum cutinya presiden saat mengkampanyekan pasangan calon presiden dan wapres tertentu, dengan gaya bertanya balik Rocky Gerung menjawab pertanyaan tersebut.
--page
"Peluang jurdil yang mana? Apakah ada jurdilnya? Tidak ada jurdilnya lantaran ada yang berambisi. Kalau memang pelaksanaannya jujur tidak mungkin universitas mengerahkan mahasiswanya dan guru besar untuk melakukan pernyataan sikap yang mengatakan Jokowi tidak punya etika," ujarnya. (WAHYU KRIDA/R)









