PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pelaksana Tugas atau Plt Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia atau DMSI, Sahat Sinaga, membahas kesalahpahaman yang umum terjadi terkait sektor hilir sawit, yang penggunaannya sebagai minyak goreng sawit.

Sahat mengungkapkan dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Senin, 5 Februari 2024, bahwa meskipun minyak sawit sering dianggap kehilangan nilai gizinya saat dijadikan minyak goreng sawit karena suhu panas, faktanya, sawit mengandung β-carotene, tokoferol, dan tocotrienol dalam kadar yang relatif tinggi.

"β-carotene merupakan sumber vitamin A dan antioksidan, sedangkan tokoferol dan tocotrienol termasuk golongan vitamin E yang juga memiliki efek antioksidan," kata Sahat dalam rilis tersebut.

Menariknya, Sahat menjelaskan bahwa sawit mampu menghasilkan vitamin A 15 kali lebih banyak daripada wortel dan vitamin E 20 kali lebih banyak daripada minyak zaitun.

"Meskipun harga minyak zaitun lebih mahal, kandungan vitamin E pada minyak sawit justru jauh lebih tinggi," tegasnya.

--page

Sahat juga menyoroti fakta kurang diketahui bahwa sawit merupakan satu-satunya jenis minyak nabati yang mirip dengan kandungan air susu ibu.

"Dengan C18, Octadecenoic Acids mencapai 36,3 persen, sawit memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lainnya," tegasnya lagi.(TESTI PRISCILLA/j)