PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia atau APOLIN, Rapolo Hutabarat menyarankan Indonesia untuk mengeksplorasi pasar Oleochemical di Afrika.

"Kami mengusulkan agar Indonesia mengeksplorasi pasar di Afrika, mengingat populasi yang besar namun GDP yang masih rendah," kata Rapolo dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Rabu, 7 Februari 2024.

Rapolo mengatakan memang pasar ekspor oleokimia terbesar adalah kawasan Asia Pasifik, dengan nilai mencapai USD16 miliar, sementara sisanya menuju Uni Eropa dan Amerika. "Produk utamanya melibatkan fatty acid, fatty alcohol, dan lainnya," katanya.

Namun memang ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh industri hilir sawit Indonesia, termasuk kurangnya perhatian terhadap beberapa produk seperti tokoferol dan betakaroten.

"Meskipun pangsa pasar keduanya cukup besar, masing-masing sekitar USD1,3 miliar dan USD4,7 miliar, namun saat ini belum ada produsen oleokimia di Indonesia yang memproduksi keduanya," katanya lagi.

Rapolo menekankan Indonesia seharusnya memanfaatkan sumber daya alamnya untuk mengisi kekosongan ini, khususnya dengan melibatkan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN di sektor farmasi.(TESTI PRISCILLA/R)