BORNEONEWS, Kotawaringin Barat - Pembangunan jalan lintas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tahun ini mulai dilanjutkan. Jalan yang beberapa bulan terakhir disfungsi akibat banjir yang menggenang di sejumlah titik badan jalan itu, rencananya akan ditangani dengan penerapan metode hibrid. Kombinasi beberapa teknologi dan bahan konstruksi dalam penanganan pembangunan jalan itu.

Kepala Bidang Bina Marga, Dinas PU Kobar Juni Gultom mengungkapkan, akan terdapat beberapa jenis proyek dalam penanganan jalan Pangkalan Bun-Kolam tahun ini. Sebab, Dinas PU saat ini tengah mengupayakan berbagai metode hibrid, untuk konstruksi jalan Pangkalan Bun-Kolam. Yakni antara kombinasi pile slab, beton ringan, geotekstil, timbunan, dan aspal. Oleh sebab itu.

"Perkiraan pekerjaan selesai empat bulan. Kita ada geotekstil, timbunan, LPA dan LPB serta aspal," ujar Juni Gultom, Jumat (13/5/2016).

Penerapan metode hibrid ini, lanjut Juni Gultom, bisa jadi salah satu jawaban dilematika pembangunan jalan Pangkalan Bun-Kolam. Sebab penerapan metode hibrid itu mendapat dukungan dari pusat.

"Dan sedang kita gandeng Litbang Kementerian PU untuk menyiapkan desain dan metode pelaksanaanya. Kita selalu optimis. Apalagi ramalan cuaca info bulan juni cuaca sudah membaik. Mohon dukungan seluruh pihak."

Mengenai adanya usulan pembuatan jalan layang atau pile slab baru di jalan itu. Juni Gultom mengaku penambahan pile slab di daerah genangan banjir, sangat baik secara teknis. Namun perlu pertimbangan ekonomis dan estetis.

"Kalau pengalihan anggaran yang dikucurkan tahun ini untuk penanganan ke pile slab. Lebih baik menunggu anggaran baru. Karena kita membangun bertahap perlu perencanaan matang."

Dari pengalaman sebelumnya. Perencanaan pembangunan pile slab, butuh waktu sekitar enam bulan, lelang satu bulan, dan penyiapan material enam bulan. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaannya perlu waktu sekitar 18 bulan, untuk pile slab sepanjang sekitar dua kilometer.

"Perlu kurang lebih tiga tahun dengan pola standar. Kalau dengan crash program, dengan pengaturan manajemen lebih baik, bisa 2 tahun. Kalau mau dari sekaran, berarti perlu perencanaan sejak sekarang."

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Dinas PU Kobar Agus Yuwono mengatakan, anggaran yang dikucurkan tahun ini untuk jalan Pangkalan Bun-Kolam, tak bisa dialihkan. Lantaran anggaran tersebut adalah dana alokasi khusus (DAK), yang penggunaannya harus dengan beberapa ketentuan dan prasyarat khusus.

Selain itu, DAK sebesar Rp20 miliar itu juga terpangkas menjadi sekitar Rp18 miliar. Akibat adanya kebijakan pengurangan DAK oleh pusat.

"DAK itu, kalau tahun ini tidak digunakan, maka akan ditarik lagi oleh pusat. Dan akan dikurangi untuk tahun berikutnya," terang Agus Yuwono,  (RADEN ARYO/*)