BORNEONEWS, Padang - Kehadiran Menteri Pariwisata Arief Yahya ke Padang, Sumatera Barat, Kamis 12 Mei 2016, tidak sia-sia. Dengan ikhlas dan penuh spirit optimisme, seluruh "CEO", dari Gubernur, dan 19 Bupati-Walikota yang mengikuti Rapat Koordinasi se Sumatera Barat itu sepakat pariwisata menjadi sektor prioritas. Positioning provinsi ini adalah wisata halal dan destination halal. 

Keputusan bulat dan aklamasi itu betul-betul menjadi tonggak, membangun Sumbar sebagai kawasan halal tourism, sama dengan branding yang sedang dibangun di Lombok dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). 

"Kami sepakat pariwisata menjadi leading sector, karena itu kami ingin belajar banyak mengembangkan potensi yang sangat kaya di Sumbar," ucap Gubernur Sumbar Irwan.

Berawal dari presentasi Menteri Pariwisata Arief Yahya di depan Forum Pemred Riau Pos Group di seminar sebelum Rakor itu dilangsungkan. Apa yang membuat seluruh stakeholder Sumbar jatuh cinta dengan pariwisata? Padahal sebelumnya penuh keraguan, sarat tanda tanya, dan tak ada yang bisa menjawab? Betulkan pariwisata penyelamat Sumbar dari problem ekonomi? 

Pertama, melihat prospek ke depan, membandingkan portofolio bisnis pariwisata dengan sektor lain, dan meyakini proyeksi bidang pariwisata yang akan semakin melejit. 

"Lihat oil and gas, tahun 2013: US$32,6 miliar. Tahun 2014 US$30 miliar, tahun 2015 US$18,9 miliar. Lihat juga batubara atau coal, 2013 US$24 miliar, tahun 2014 US$20 miliar, tahun 2015 US$16 miliar. Bandingkan dengan pariwisata, tahun 2013 US$10 miliar, tahun 2014 US$11 miliar dan 2015 US$11,6 miliar. Hanya pariwisata yang trennya naik," kata Arief Yanya. 

Pria berdarah Banyuwangi-Banten ini pun membuatkan contoh konkret, proyeksi itu lebih penting dari performan. Kalau memilih mantu, mau seorang satpam yang bergaji Rp5 juta, punya tabungan Rp80 juta? Atau mahasiswa Teknik Elektro ITB yang setiap akhir bulan sudah mulai ngebon? 

"Kalau berpikir proyeksi, pasti ambil mahasiswa ITB! karena ke depan pendapatannya bisa jauh lebih besar dibandingkan seorang satpam,” katanya. 

Arief juga menjelaskan soal Gelombang Revolusi karya Alvin Toffler. Level pertama revolusi pertanian atau agriculture, lalu level berikutnya masuk ke revolusi industri atau manufacturing. Terakhir level revolusi teknologi informasi, yang terjadi sekarang ini.

"Kita sudah akan meninggalkan revolusi TI, dan masuk ke cultural industry atau creative industry. Pariwisata itu industri di level empat itu, industri yang akan hidup dan berkembang di masa depan," ujar Arief Yahya yang pakar membuat portofolio bisnis itu.

Dari peta itu, apakah Sumbar masih akan memilih portofolio bisnis di pertanian dan perikanan? Memformat rakyatnya menjadi petani dan nelayan? Yang sudah pasti akan menempati posisi paling bawah? 

"Pariwisata adalah cara paling cepat, mudah dan murah untuk memajukan masyarakat," kata Arief yang mengingatkan para CEO agar jangan salah menetapkan arah kebijakan. 

Sekali salah memilih portofolio bisnis, dosanya lama ditanggung oleh masuarakat dan akan menjadi beban yang tak mudah menyelesaikannya. 

"Saya selalu menggunakan data dan angka. Jadi kalau mau berdebat silakan gunakan data lebih valid. Saya juga selalu menggunakan global standart, World Economic Forum, World Tour and Travel Competitiveness Index, UN-WTO. Dan saya selalu benchmark, membandingkan dengan pesaing, membandingkan dengan kisah sukses di tempat lain,” katanya. 

Alasan kedua, mengapa Sumbar harus switch ke sektor pariwisata, fakta sumbar itu tidak klop antara potensi dan realisasi. Terlalu kecil jumlah wisman yang masuk, dibandingkan dengan keindahalan alam dan kecantikan budaya yang dimilikinya. Masak satu provinsi dengan 19 kabupaten kota kalah dengan Banyuwangi, kabupaten kecil di ujung timur Jawa? 

Lalu bagaimana memformat menjadi destinasi yang kuat? Positioningnya harus betul, baik terhadap potensinya maupun dengan originasi yang disasar. Jangan salah memilih Kadispar, harus orang terhebat untuk menggarap prioritas terbaik. "Jangan salah mengalokasikan sumberdaya, termasuk keuangan. Harus dianggarkan yang terbaik untuk sektor pariwisata, terutama pengembangan destinasi. 

Alasan ketiga, mengapa Sumbar harus cepat-cepat switch ke jasa pariwisata? Semampang sedang bersamaan dengan Lombok, NTB yang sedang dirancang menjadi halal destination. Lombok adalah destinasi halal terbaik dunia, yang diserahkan di Abu Dhabi 2015. Dan sekarang Lombok terus berbenah dengan deferensiasi berbeda dengan Bali, sebagai halal destinasi.

Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Halal Tourism Kemenpar menambahkan, saat diskusi itu ada respons sangat positif. Terutama  Walikota Padang, Kota Bukit Tinggi dan Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten Pesisir Selatan, tempat Mandeh dan Sungai Nyalo. "Mereka sangat antusias, luar biasa membuka cara berpikir mereka tentang halal tourism."

Riyanto menjelaskan, rendang makanan khas Sumber sudah sukses meraih the best Culinary versi CNN thn 2014. Sumbar juga bisa diusulkan oleh Kemenpar bersaing di ajang World Halal Travel Award di Abu Dhabi November nanti, dari 15 kategori yang dilombakan. 

Soal "Raja Ampat-nya Sumatera" Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Kemenpar sudah melakukan banyak hal, termasuk membuat toilet sehat bersama Kementerian Pariwisata dan TNI AL. Sebentar lagi ada homestay yang tengah diprogramkan Menteri Arief Yahya. 

"Saya sudah meminta tolong kepada Kepala Badan Ekonomi Kereatif  Triawan Munaf untuk membuatkan desain arsitektur nusantara khusus Sumbar, dengan begonjong, lalu kuliner dan fashionnya," kata Arief Yahya. 

Ketua Tim-10, Hiramsyah Sambudy Taib menegaskan homestay nanti harus mengacu pada desain yang dibuatkan BKRAF. Hiram sudah meninjau kawasan Mandeh yang akan menjadi Raja Ampatnya Sumatera itu. (m/N).