BORNEONEWS, Sukamara – Akibat tingginya curah hujan yang melanda Kota Sukamara menimbulkan banyak kerugian. Tingginya air yang merendam sejumlah lahan petani menyebabkan ratusan pohon jeruk mati. Seperti pohon jeruk milik petani di Kampung Sambas, Kelurahan Padang, Kecamatan Sukamara, Kabupaten Sukamara. 

Ramli, petani jeruk di Kampung Sambas megatakan, akibat tingginya debit air yang merendam kebun miliknya menyebabkan banyak tanaman jeruk yang baru mulai berbuah mati.

“Akibat terendam air hujan ini, hampir semua tanaman jeruk saya mati. Dari 150 bantang pohon jeruk yang saya tanam mungkin hanya tersisa 10 batang saja,” ucapnya sedih, Minggu (15/5/2016).

Apabila debit air tidak kunjung turun, lanjutnya, diperkirakan seluruh tanaman jeruknya akan mati. Sisa tanaman yang masih bertahan hingga saat ini sudah tampak berubah karena terlihat dari daun jeruk yang mulai menguning.

“Itu yang masih 10 batang daunnya sudah kuning. Kalau airnya tidak turun juga mungkin dalam satu minggu tanaman itu bakal mati,” kata Ramli.

Ia menuturkan, kerugian ini tidak hanya ia alami sendiri. Tetapi msih banyak petani lain yang juga ikut mengalami kerugian akibat dari tingginya debit air yang merendam sejumlah lahan milik petani.

“Itu tanaman pisang milik tetangga juga pada mati. Daunnya jadi coklat semua, tetapi untuk tanaman padi di sini tidak berpengaruh, meskipun terendam air hujan petani masih tetap bisa panen,” ujarnya.

Akibat curah hujan yang tinggi sejak November 2015, seluas 70 Hektare lahan pertanian terendam sejak Februari 2016.

Kepala Bidang Pertanian Distanak Sukamara Suhadi mengatakan, akibat curah hujan yang terjadi beberapa waktu ini menyebabkan beberapa lahan pertanian milik Kelompok Tani (Poktan) Sepakat Makmur dan Poktan Harapan Baru terendam banjir sejak Februari 2015.

“Ini akibat curuh hujan yang tinggi sehingga lahan pertanian di dua kelurahan ini terendam banjir, luas lahan yang terendam untuk Kelurahan Padang seluas 50 hektare dan di Mendawai seluas 20 hektare,” kata Suhadi di ruang kerjanya, Selasa (15/3/2016).

Suhadi melanjutkan, meski dua lahan pertanian tersebut terndam banjir, pihaknnya bisa memastikan bahwa tanaman padi milik dua kelompok tani tersebut tidak akan gagal panen karena banjir yang melanda lahan pertanian sudah memasuki usia panen. Selain itu, air yang merendam lahan pertanian inipun tidak melebihi tinggi dari tanaman padi tersebut.

“Ini tidak akan menyebabkan gagal panen, karena padinya sudah akan dipanen. Jadi para petani tidak akan rugi,” tegas Suhadi. (MG-13/m)