BORNEONEWS, Palangka Raya - Lantaran masih asing dengan bahasa-bahasa beasiswa, Yesica Dwi Mariani menganggap hoaks info beasiswa yang diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS. Yesica menganggap kalau informasi beasiswa sawit itu hoaks saja. Apalagi selama ini, Yesica tidak tahu apa itu BPDPKS.
Tapi setelah diberi brosur, barulah Yesica percaya dan akhirnya menjadi mahasiswa Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta atau AKPY yang tergabung dalam gelombang kedua dari tiga gelombang. AKPY sendiri adalah 'anak' dari Instiper Yogyakarta.
Singkat cerita, Yesica pun mendaftar online. Pilihan pertama adalah Instiper, lalu AKPY, LPP Yogya hingga Politeknik CWE. Perempuan cantik ini sengaja menempuh perjalanan 15 kilometer dari rumahnya di kebun ke SMK Negeri 1, demi dapat sinyal bagus.
"Kebetulan di sekolah wifi nya sudah ada," kenangnya seperti dalam rilis yang disampaikan BPDPKS pada Selasa, 20 Februari 2024.
Jelang pengumuman, sempat juga kepikiran oleh Yesica untuk tetap lanjut melamar kerja di PT Dharma Satya Nusantara atau DSN Group kalau tidak lulus.
--page
"Alhamdulillah ternyata lulus. Orangtua saya senang sekali. Apalagi besiswa ini benefitnya sangat banyak. Full pembiayaan. Mulai dari transport berangkat dan pulang, biaya hidup, uang buku, ditanggung. Terus, bisa pula magang di perusahaan besar," katanya.
Awal September 2023, Yesica pun siap-siap terbang ke Kulon Progo, Yogyakarta. Tiket pesawat Super Air Jet sudah dia kantongi.
Ini kali pertama dia menumpangi 'burung besi'. Sendirian pula. Orang tuanya hanya mengantar sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Di Kulon Progo, jemputan dari Kampus AKPY ada.
"Hanya saya sendiri dari Kutai Timur. Lalu ada pula 1 orang dari Kutai Barat," ujarnya.
Baru tiga bulan belajar di Kampus AKPY di kawasan Jalan Petung No.2, Papringan, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta, Yesica sudah dinyatakan pula lulus menjadi karyawan PT. Astra Agro Lestari Tbk. Menjadi mandor.
Yesica memilih Astra dan tak ikut test di Karya Mas lantaran dia mendapat cerita kalau kebun perusahaan ini ada juga di Kaltim.
"Mana tahu saya kelak magang dan sekaligus menjadi karyawan di sana. Bisa lebih dekat pula kalau mau pulang ke rumah orang tua," dia berharap.
Layaknya perempuan seusia Yesica, berat juga berpisah dari orangtua. "Tapi lantaran saya punya mimpi, saya yakin orangtua akan mendukung. Saya mohon doa orangtua saya biar semuamya lancar," lirih suara perempuan ini terdengar.
Lantaran sudah jelas akan bekerja dimana, Yesica pun makin semangat untuk menuntaskan tugasnya hingga lulus. "Saya akan belajar lebih serius, pelajari semua teknis yang nanti dibutuhkan di perkebunan sawit. Jadi nanti pada saat keberangkatan magang, saya benar-benar telah siap bekerja di sana," tekadnya.
Sebagai Ketua Pelaksana Learning Factory atau LF, Hartono rupanya sudah mengamati gerak-gerik Yesica. Di mata dosen senior yang juga praktisi ini, Yesica adalah sosok yang rajin dan cekatan.
"Anaknya cerdas. Bikin Power Point, bikin Excel, bikin laporan, pintar dia," lelaki 53 tahun ini memuji. (TESTI PRISCILLA/Y)









