PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sedari balita, sudah tinggal di kebun sawit. Dia pun ingin berkarir di sana. Langit di Bawen, Ungaran, Jawa Tengah dua pekan lalu masih kelihatan gelap gulita. Waktu menunjukkan pukul 04:50 WIB. 

Samar-samar, perempuan 18 tahun ini nampak berlari kecil dari belakang mess dosen menuju lapangan yang ada di bagian depan komplek seluas 16,5 hektar itu, seperti dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Selasa, 20 Februari 2024.

Orang-orang di sana jamak menyebut komplek Kebun Pendidikan dan Penelitian atau KP2 Stiper Edu Agro Tourism atau SEAT. 

Ini hari kelima Yesica Dwi Mariani berada di sana, bersama 149 orang mahasiswa program Diploma Satu lainnya. 

Mereka adalah mahasiswa Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta atau AKPY yang tergabung dalam gelombang kedua dari tiga gelombang. AKPY sendiri adalah 'anak' dari Instiper Yogyakarta. Yesica mengambil jurusan Pemeliharaan Kelapa Sawit di sana.

Selama 10 hari para mahasiswa ini mengikuti kuliah Learning Factory atau LF di sana. Tiap gelombang mendapat jatah waktu selama itu.

--page

Lantaran angkatan 2023 beasiswa sawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS ini berjumlah 450 orang lah makanya mereka sengaja dibagi seperti itu. Masing-masing gelombang 150 orang. Pekan depan gelombang terakhir. 

Di lapangan depan gedung utama komplek itu, Yesica bergabung dengan lima temannya. Sedari awal LF  berlangsung, memang sudah dibagi seperti itu. Enam orang satu kelompok atau afdeling. 

Selama 10 hari ini, masing-masing akan kebagian jatah menjadi Mandor Satu sekali dan menjadi Krani sekali pula. Sisanya menjadi karyawan. 

Ragam yang mereka lakukan dari pukul 05:00 wib hingga pukul 21:00 wib nanti. Mulai dari apel, senam, ke lapangan, masuk kelas siang, hingga masuk kelas lagi pada malamnya. 

"Kalau hari itu tugas kami di selter pembibitan, berarti posisi mandor saat itu ya mandor pembibitan. Maka dia harus menyampaikan apa saja pekerjaan kami di hari itu. Normanya berapa, outputnya berapa, semuanya disampaikan," cerita anak kedua dari dua bersaudara ini.

Habis senam pagi kata alumnus Agri Bisnis Tanaman Perkebunan SMK Negeri 1 Muara  Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur-Kaltim ini, mereka kemudian berurutan ke gudang mengambil alat-alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pekerjaan hari itu.

--page

"Jam 6.30 Wib, semua sudah harus di lapangan sesuai selternya. Kami bekerja hingga pukul 08:00 wib. Habis itu makan pagi di lapangan itu," ujarnya. 

Setengah jam waktu makan, lanjut lagi kerja hingga pukul 12:00 wib. Sejam kemudian masuk kelas siang hingga pukul 15.30 wib. 

"Selama kelas siang itu kami mengevaluasi kerja kami dari pagi hingga siang tadi. Termasuk administrasi dan pelaporan kerja hari itu," terangnya. 

Pukul 19:00 WIB, masuk kelas malam. Di sini Dosen Pendamping Lapangan (DPL) akan menyampaikan teknis pekerjaan yang akan dilakukan besok. Rencana Kerja Harian (RKH) besok, dibikin di situ. 

"Aktifitas itu berlangsung hingga jam 20.30 wib. Habis itu kita apel malam, baru istirahat. Saya terbiasa bangun jam 03:00 wib. Biar enggak terburu-buru. Soalnya kalau mau mandi kadang kita harus antri," perempuan yang langganan juara kelas ini sewaktu di SMK Negeri 1 Muara Wahau ini tertawa.   

Lantaran rutinitas begitu padat, di awal-awal kata Yesica semuanya terasa sangat melelahkan meski beberapa hari kemudian, dia menjadi terbiasa. 

"Selama 10 hari aktivitas itu berjalan, kami tidak boleh pegang HP. Kalaupun ada yang ditugasi bawa HP, itu cuma untuk mendokumentasikan. Ponselnya juga dimodeterbangkan," katanya. 

Tak pernah terbayangkan oleh Yesica akan menjadi mahasiswi beasiswa sawit. Soalnya, sebelum tamat sekolahpun, pikirannya sudah ingin bekerja di PT Dharma Satya Nusantara atau DSN Group saja. Mengikuti jejak keluarga besarnya. 

Ayahnya, Rinhard Agung Saharjo adalah karyawan pengawas pengangkutan TBS di perusahaan itu. Ibunya, Yasiroh, karyawan peratawan dan kakaknya Acep Devgianto Raharjo, karyawan panen. 

Alasan Yesica sederhana saja. Lantaran dari kecil sudah kenal sawit, dia ingin berkarir di perkebunan sawit saja. 

Mau lanjut kuliah, perempuan kelahiran Kebumen Jawa Tengah ini enggak tega pula terus-terusan membebani orang tuanya. 

Itulah makanya setelah tamat sekolah, dia memberanikan diri datang Learning Center (LC) perusahaan itu untuk menanyakan lowongan kerja apa yang ada. 

Syukur-syukur ada lowongan mandor. Sebab menurut Yesica, ijazah yang sudah dia kantongi bisa diganjar dengan jabatan mandor. 

--page

Yesica tak sungkan datang ke sana lantaran sedari umur 4 tahun diboyong ayahnya dari Kebumen, dia sudah terbiasa dengan suasana di sana. Kebetulan mereka tinggal di salah satu afdeling di perusahaan itu. 

"Kenapa enggak kuliah saja Yes? Kan ada program beasiswa sawit. Coba saja dulu, mana tahu lulus," petugas di LC itu memberi saran. 

Lantaran masih asing dengan bahasa-bahasa beasiswa, Yesica menganggap kalau informasi beasiswa sawit itu hoax saja. Apalagi selama ini, Yesica tidak tahu apa itu BPDPKS. Tapi setelah diberi brosur, barulah Yesica percaya. (TESTI PRISCILLA/y)