KEHANCURAN moral masyarakat  sudah mencapai ubun-ubun. Tak ketulungan parahnya. Kali ini, yang heboh diperbicangkan adalah puluhan warga yang melapor polisi karena menjadi korban penipuan seorang ustaz.

Sang ustaz  yang sehari-hari melakukan dahwah, dan kotbah di tengah jamaah, ternyata seorang  penipu. Ustaz yang dikenal bernama Iriyanoor dilaporkanke Polres Kotawaringin Barat karena tak kunjung memenuhi janjinya. Yakni memberangkatkan ibadah umroh puluhan orang yang telah menyetor uang puluhan juta.  Diberitakan, dari seluruh calon jemaah umroh, sudah terkumpul uang sekitar Rp2,5 miliar.

Harapan jamaah untuk ziarah ke Mekkah dan Madinah, tak terlaksana. Sang ustaz diberitakan lari melompati pagar belakang rumah barakan, beberapa jam sebelum massa yang marah itu ramai-ramai datang.  Yang menarik, sang ustaz tetap pergi dengan menggunakan jubah putih, layaknya seorang ustaz.

Namanya penipu, tak memandang korban. Penipu mengandalkan segala macam modus. Untuk ‘menjual’ akhirat, sampai-sampai ia menyebut diri ustaz. Dakwahnyapun di mana-mana.  Bahkan kabarnya sering tampil di TV lokal yang ada di Pangkalan Bun.  Dari situlah warga percaya.

Teliti sebelum membeli. Begitulah nasehat yang selalu kita dengar. Karena bisa saja serigala berbulu domba. Tampak dan tampil jinak, santun dan  sholeh, tetapi sejatinya itu hanyalah taktik. Itu hanyalah tipudaya. Itu hanya trik untuk memikat dan kemudian memperdayai kita  semua.

Dan sebenarnya, sudah terlalu banyak contoh.  Ustaz yang menjadi agen demikian, memang bertebaran di mana-mana. Dan yang membuahkan kekecewaan bagi jemaatnya,  sering kita dengar.

 Warga kita terlalu mudah percaya kepada siapa saja yang kelihatannya baik. Terlalu mudah terpikat kepada siapa saja yang kedengarannya bagus. Terlalu mudah terbujuk rayu pada iming-iming yang menjanjikan ‘surga’, yang menjanjikan ‘akhirat’.

 Warga kita malu untuk bersikap kritis. Tabu untuk mendetail bertanya.  Apalagi bertanya kepada orang yang dituakan, berkedudukan tinggi, berpangkat tinggi, berpredikat haji atau ustaz.

 Ini adalah pelajaran. Puluhan calon jemaah umroh akhirnya gigit jari.  Tertipu ustaznya sendiri. Lain kali, bertanyalah yang jelas, detail dan jangan percaya sebelum bukti-bukti otentik ada di tangan kita. Di dunia ini apa yang tak palsu. Jangankah ustaz palsu. Wong nabi palsu saja ada kok!  Di Jombang Jawa Timur, ada nabi Isa.  Ahmad Muzadek, yang mendirikan Gafatar, itu juga mengaku nabi.  Kita tahu persis, keduanya itu pasti palsu!