BORNEONEWS, Katingan - Sejak 2012 warga Desa Tumbang Kanei, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, telah menikmati Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpusat. Meski saat ini tidak 24 jam menyala, namun PLTS terpusat di desa ini cukup membantu warga, terutama di malan hari.

"Dulu waktu baru beroperasi lampu di rumah kami setiap hari selama 24 jam menyala terus, tapi khusus untuk lampu saja," sebut Numai, warga Desa Tumbang Kanei, akhir pekan lalu.

Namun setelah warga mulai ramai menggunakan televisi, listrik dari PLTS ini hanya menyala selama sekitar 12 jam.

"Sekarang menyala mulai jam setengah enam sore dan padam pada pagi hari sekitar jam enam, tapi kita bisa nonton televisi," tutur Numai.

Selama sekitar empat tahun berjalan, katanya tidak ada gangguan berarti terhadap PLTS di desanya itu.

"Jarang ada gangguan, dulu pernah beberapa kali saja sempat padam karena akinya rusak," katanya.

Namun pada musim penghujan ini, rata-rata listrik di desanya itu hanya menyala sampai pukul 03.00 Wib dinihari.

Pasalnya, saat musim penghujan cuaca sering mendung sehingga matahari tak bersinar. "Kalau pas lagi mendung pengaruhnya listrik di desa kami menyala tidak sampai pagi," imbuhnya.

Kades Tumbang Kanei, Ruji Yanto menuturkan PLTS terpusat di desanya sejauh ini mampu menerangi seluruh rumah penduduk yang berjumlah 75 rumah. "PLTS terpusat di desa kami ini berkekuatan 35 Kilowatt (Kw), dan ini merupakan bantuan pusat melalui pemerintah daerah tahun 2012," katanya.

Dalam satu rumah, katanya rata-rata mendapat jatah aliran listrik sebesar 240 watt. "Untuk setiap rumah per bulan ditarik Rp20 ribu untuk biaya pemeliharaan, dan perlu diketahui PLTS di desa kami ini percontohan di Indonesia, sebab sebelumnya ada tim dari pusat yang memberitahukan kepada kami soal itu," imbuhnya. (ABDUL GOFUR/N).