BORNEONEWS, Palangka Raya - Saat ini harga beras sedang menjadi trending pembahasan nasional. Harga beras tertinggi mencapai Rp18.000 per kg. Kondisi ini sudah melenceng jauh dari Peraturan Badan Pangan Nasional No 7 Tahun 2023, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras Rp. 14.400.
Menanggapi hal tersebut, akademisi dari Universitas Palangka Raya (UPR) yang juga Peneliti Institute For Economic Research and Training (INTEREST), Suherman mengatakan, penyebab kenaikan harga pangan di Indonesia bisa diliat dari dua sisi, yakni internal maupun eksternal.
"Beberapa faktor internal itu misalnya fenomena perubahan iklim, infrastruktur pendukung pertanian kurang memadai , kualitas dan produktivitas pangan yang rendah serta gangguan pada rantai pasok (supply chain)," katanya, Rabu, 28 Februari 2024
Sepanjang 2023, imbuh dia, juga bisa lihat fenomena perubahan iklim yang menyebabkan para petani tidak bisa memaksimalkan produksi padinya di sawah, jadi faktor ini juga tidak bisa abaikan.
Belum lagi rantai distribusi pangan masih jadi masalah juga, kadang ada yang melakukan penimbunan sehingga menyebabkan kelangkaan.
--page
Beberapa faktor eksternal juga seperti konflik politik yang berlangsung di negara-negara produsen pangan, terjadi krisis energi global, dan juga perubahan nilai tukar yang fluktuatif.
"Di luar itu kita tidak bisa mengesampingkan juga faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumen, seperti spekulasi, ketakutan, dan kepanikan," bebernya.
Menurutnya, kenaikan harga bisa jadi karena meningkatnya permintaan dan pengeluaran masyarakat, serta adanya potensi konflik dan ketidakstabilan politik pasca Pemilihan Umum 2024.
Selain itu, bisa kita anggap bahwa tradisi menjelang Ramadhan juga turut berpengaruh terhadap harga pangan, karena biasanya permintaan akan bahan pangan utama kayak beras, telur, daging, dan minyak goreng, akan mengalami peningkatan seiring dengan persiapan masyarakat menyambut bulan Ramadan.
"Hal itu tentunya bisa menyebabkan kelangkaan dan keterbatasan pasokan, sehingga harga menjadi naik. Tapi perlu dilakukan riset yang komprehensif untuk memastikan akar masalah dari kenaikan harga ini," jelasnya.
--page
Dirinya mengingatkan, kenaikan harga yang meroket bisa memicu panic buying bagi masyarakat, khususnya terutama kalau disertai dengan informasi yang tidak benar, tidak transparan, atau menyesatkan.
"Panic buying itu merupakan perilaku membeli barang dalam jumlah besar karena takut kehabisan atau tidak tersedia di masa depan. Panic buying bisa berdampak negatif bagi ketersediaan dan stabilitas harga pangan, karena bisa menimbulkan kelangkaan yang parah," ingatnya.
Ia mengimbau produsen jangan ada yang melakukan penimbunan beras agar tidak membuat harga pangan semakin tinggi. Peran pemerintah diperlukan agar potensi potensi spekulasi yang terjadi di masyarakat bisa diatasi.
"Ini pekerjaan rumah (PR) pemerintah adalah memastikan stok beras ini segera tersedia untuk memenuhi permintaan pasar. Pemenuhan ini bisa dilakukan dengan impor dari negara produsen beras atau mendorong kemampuan petani lokal dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas beras di tanah air, terutama diwilayah kita sendiri Kalimantan Tengah," pungkasnya. (MARINI/j)









