TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Media sosial bukan hanya sekedar tempat untuk berinteraksi bagi sesama pengguna di dunia maya, namun dapat menjadi tempat untuk menggali ide peluang usaha, ini dibuktikan Muhamad Andaryadi atau Aan (29) dan Ladiandriani atau Ladi (32) yang mengelola usah jual-beli limbah dapur berupa minyak goreng bekas atau jelantah di Kelurahan Ampah Kota Kabupaten Barito Timur.

"Awalnya kami mendapatkan ide berjualan minyak jelantah terinspirasi dari salah satu akun media sosial yang menjelaskan tentang bahaya minyak jelantah bagi lingkungan jika dibuang sembarangan, karena minyak jelantah bisa menjadi limbah yang mencemari air dan merusak pertumbuhan tanaman," ungkap Aan saat diwawancarai, Senin, 4 Maret 2024.

Melihat bahwa di Ampah Kota belum ada yang mengelola minyak jelantah sebagai usaha, Aan dan Ladi kemudian berpikir untuk mencari pasar agar limbah tersebut bisa menghasilkan uang bagi warga terutama pemilik warung makan yang menghasilkan minyak jelantah dalam jumlah yang lebih banyak daripada rumah tangga.

"Singkat cerita setelah kami mendapatkan market (pasar) maka terbentuklah usaha yang kami namakan Jelantah Oil Ampah ini," jelasnya.

Jelantah Oil Ampah membeli minyak jelantah yang dikirim ke gudang mereka di Jalan Ponsong Teleng RT 42 Ampah Kota dengan harga Rp3.000 per liter. Mereka juga bisa mengambil langsung ke tempat penjual minyak jelantah yang sudah menjadi mitra.

Warga yang menjual minyak jelantah ke Jelantah Oil Ampah terus meningkat setelah tahu bahwa limbah dapur itu masih bisa diuangkan, apalagi dengan bantuan internet dan media sosial Aan dan Ladi dapat mengedukasi masyarakat sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas di Barito Timur.

Meski terus berkembang, namun sebagaimana layaknya usaha yang lain, Jelantah Oil Ampah juga menghadapi tantangan yang berat saat awal pengembangan usaha, terutama karena jenis usaha ini merupakan hal baru bagi masyarakat setempat.

--page

"Tantangan-tantangannya lumayan berat karena kami dihadapkan dengan hal baru yang belum pernah orang tahu, khusunya di daerah Ampah. Kendala utamanya ada di pencarian bahan baku minyak jelantah, di Ampah sendiri masih banyak orang yang tidak tahu minyak jelantah ini bisa dijual dan dijadikan uang, mereka juga tidak tahu dijual untuk dijadikan apa, jadi kami selaku owner (pemilik) dari Jelantah Oil Ampah harus menjelaskan dan memberikan edukasi kepada warga agar tidak terjadi kesalahpahaman," tutur Aan.

Dia kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang telah dibeli dari warga akan dijual kembali ke pengepul untuk didaur ulang menjadi bahan bakar biodiesel.

"Ke depan kami ingin merangkul warga untuk menjadi mitra bersama-sama menghasilkan cuan  (keuntungan berupa uang) dari minyak jelantah yang justru berbahaya bagi lingkungan jika dibuang sembarangan. Kami juga ingin memperluas market Jelantah Oil Ampah," kata Aan mengakhiri pembicaraan. (BOLE MALO/R)