BORNEONEWS, Palangka Raya - Komite Riset dan Pengembangan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS, Aiyen Tjoa mengingatkan para calon peneliti agar dalam proposal penelitian yang disodorkan kepada BPDPKS harus memiliki novelty yakni unsur kebaruan atau temuan dari sebuah penelitian.
"Penelitian dikatakan baik jika menemukan unsur temuan baru sehingga memiliki kontribusi baik bagi keilmuan maupun bagi kehidupan," kata Aiyen Tjoa dalam rilis yang diterima Borneonews pada Kamis, 7 Maret 2024.
Pesan itu disampaikan Aiyen saat menyosialisasikan Grant Riset Sawit atau GRS dari BPDPKS di Medan baru-baru ini.
"Jangan sampai peneliti, dalam proposalnya yang disampaikan ke kami dari BPDPKS, mengutip misalnya luas kebun sawit di tahun 2015, sedangkan sekarang sudah tahun 2024, sudah beda jumlahnya. Harus yang terbaru datanya," tambahnya.
Wanita yang juga akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Provinsi Sulawesi Tengah ini lalu mencontohkan topik penelitian apa saja yang layak diangkat oleh para peneliti dalam proposalnya, seperti biomaterial dan oleokimia, bioenergi, pascapanen dan pengolahan sawit. Lalu persoalan lainnya, misalnya soal budidaya, lahan, dan pupuk, pangan, atau pun kesehatan.
--page
"Kalau boleh saya sarankan, para peneliti sebaiknya mengajukan proposal penelitian yang berbasis minyak sawit mentah atau minyak sawit mentah atau CPO itu sendiri," tambahnya.
Aiyen menegaskan bahwa BPDPKS tidak pernah menerapkan target berapa proposal yang harus diterima dan berapa dana GRS yang harus dikeluarkan.
"Bukan, semua bukan berdasarkan hal itu melainkan benar-benar sebatas layak dan ilmiahkah proposal penelitian yang disodorkan ke kami serta apakah nanti kiranya hasil penelitian yang didanai GRS BPDPKS tersebut dapat bermanfaat bagi para pemangku kepentingan sawit. Seperti masyarakat termasuk petani sawit, perusahaan sawit, pemerintah, dan kalangan industri, khususnya industri hilir sawit," tegas Aiyen Tjoa. (TESTI PRISCILLA/Y)









