PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah (BPS Kalteng) Eko Marsoro mengungkapkan bahwa kenaikan beras ini terjadi gabah penggilangin padi mencapai kurang lebih 3.300 ribu ton dan menjadi beras sekitar kurang lebih 200 ribu ton. 

Kondisi ini menggambarkan tidak semua padi dari Kalteng digiling di provinsi setempat. Sebagian besar digiling di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), lalu dijual kembali ke Kalteng.

"Jenisnya macam-macam ada beras medium, premium dan tidak semua konsumsi beras itu di cover oleh Forum Bulog. Dan Bulog sendiri berkonstrasi padi beras medium," katanya, Jumat 8 Maret 2024.

Sementara itu, berdasarkan pengalaman pihaknya kenaikan beras terjadi pada tahun 2022 lalu berasal dari beras premium. Jadi, dari sisi kecukupan aman karena tidak terjadi perebutan pembeli beras di pasar.

"Tetapi keseimbangan supply dan domain tetap terjadi, ketika supply tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan baik dengan cepat akan terjadi kenaikan harga. Harga beras seluruh Indonesia cenderung keatas, dan hari ini harga beras mulai mengalami penuruanan," jelasnya.

Selain itu juga, faktor penyebab supply ini terganggu akibat faktor cuaca. Di samping itu, katanya musim tanam padi yang juga bergeser dan pada bulan ini, banyak petani tidak banyak yang panen.

--page

"Mungkin nanti Maret dan April banyak yang panen, itu yang menjamin pasokan beras Kalteng agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," harapnya. (MARINI/R)