BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS, Kabul Wijayanto mengatakan bahwa komoditas kelapa sawit terus memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia meskipun menghadapi tantangan penurunan harga di tahun 2023.
Kabul menuturkan bahwa menurut data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun tersebut mencapai 5,05 persen. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Transportasi dan Pergudangan, mencapai 13,96 persen.
"Namun demikian, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, termasuk di dalamnya produksi kelapa sawit, juga tumbuh positif sebesar 1,30 persen, memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi," kata Kabul dalam rilisnya pada Sabtu, 9 Maret 2024.
Menurut Kabul, kelapa sawit juga merupakan penyumbang terbesar untuk ekspor non-migas Indonesia.
"Ekspor non-migas Indonesia pada tahun 2023 mencapai US$242,87 miliar, dengan sekitar US$28,45 miliar berasal dari ekspor lemak dan minyak hewan/nabati, termasuk minyak kelapa sawit," tuturnya.
--page
Bahkan, lanjut Kabul, harga minyak kelapa sawit atau CPO cenderung stabil di tahun 2023, tidak mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Harga CPO CIF Rotterdam berkisar antara US$905/MT – US$1.019/MT, dengan rata-rata sebesar US$964/MT. Sementara itu, harga patokan ekspor CPO yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan berkisar antara US$723,45 – US$955,53/MT, dengan rata-rata sebesar US$832,26/MT," bebernya.
Demikian pula, katanya, harga tandan buah segar kelapa sawit juga relatif stabil, dengan penetapan Gubernur berkisar antara Rp2.180 – Rp2.718/Kg, atau rata-rata sebesar Rp2.425/Kg. (TESTI PRISCILLA/Y)









