BORNEONEWS, Palangka Raya - Kementerian Agama (Kemenag) Kalteng bersama organisasi islam PW NU, Muhammadiyah, LDII dan ormas lainnya melakukan pemantauan hilal di Menara Masjid Raya Darussalam.
Hasil teleskop Vixen menunjukan hilal masih berada di 0,26 derajat, dan masih perlu dilakukan pemantauan lanjutan
“Berdasarkan hasil pemantauan, rukyat hilal di Kalteng masih belum terlihat. Pada ketinggian 0,3 derajat pada pukul 17.38,” ucap Kepala Bidang Tata Usaha, Kementerian Agama Provinsi Kalteng Tuaini saat press release di Menara Masjid Raya Darussalam, Minggu, 10 Maret 2024.
Tuaini mengatakan, pada saat ini hilal masih belum memenuhi kriteria sebagai bulan baru. Hal ini berarti umat Islam di seluruh Indonesia, begitu pula di Kalteng masih harus menunggu hasil pengamatan hilal pada malam hari ini dan menentukan awal bulan Ramadan bersama.
“Maka dalam mengambil keputusan, kita harus tetap menghargai dan toleran satu sama lainnya, meskipun mungkin terdapat perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadan. Setelah tim hisab rukyat melakukan analisis, hilal di seluruh Indonesia tidak melebihi satu derajat dan sudah sesuai kesepakatan menteri ASEAN,” tuturnya.
Dia menyampaikan, untuk posisi hilal berdasarkan hisab adalah sebuah metode atau cara untuk mengetahui posisi ketinggian hilal sehingga apakah dimungkinkan hilal itu bisa dilihat atau tidak. Dengan demikian telah menyepakati kriteria visibilitas hilal, yaitu ketinggian hilal mencapai 3 derajat, dan sudut elongasi 6,4 derajat.
“Sehingga berdasarkan hisab posisi hilal seluruh Indonesia, saat ini masih di bawah ufuk. Dan tidak memiliki kriteria bulan baru. Tentunya itu berdasarkan konfirmasi sejumlah petugas kementerian agama di Daerah yang ditempatkan, di dua titik lainnya yakni Pantai Teluk Bogang Kabupaten Kotawaringin Barat, Pelabuhan Segintung Kabupaten Seruyan,” jelasnya.
Tuaini menyatakan, jika pada hari ini atau mungkin di hari esok ada perbedaan dalam pelaksanaan Awal Ramadan 1445 Hijiriah. Ia mengingatkan jangan sampai perbedaan menimbulkan gejolak pada masyarakat.
"Selain itu, untuk hasil hisab rukyat nasional yang ditindaklanjuti melalui sidang isbat akan menjadi acuan untuk menentukan awal puasa Ramadan,” pungkasnya.
--page
Sementara itu, Ketua DPW LDII Kalteng, Nur Prayudi menyampaikan kegiatan timnya dalam Rukyatul hilal di kota Palangka Raya untuk menentukan awal Ramadhan adalah kegiatan rutin.
Ia mengingatkan pentingnya kebersamaan, jika dijumpai perbedaan dalam memutuskan awal Ramadhan semata-mata hanya karena adanya perbedaan kriteria/metode.
"Hendaknya umat Islam bisa menerima, tidak apriori, disikapi secara bijak, tidak saling menyalahkan karena hanya ada perbedaan cabang (furuiyah)," tuturnya.
Nur menyampaikan selain tim kementerian agama, Rukyatul hilal LDII yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia menyampaikan laporan hasil pengamatannya ke pusat.
"Hasil pengamatan selanjutnya dibawa ke forum sidang itsbat di Kementerian Agama RI," tegasnya. (HERMAWAN DP/R)









