PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik Pudji Ismartini mengatakan, komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi adalah beras.

Menurutnya, beras penyumbang andil inflasi terbesar baik secara bulanan maupun tahunan.

Namun saat ini, imbuh dia, harga komoditas beras berangsur mulai terkendali dengan masuknya masa panen di beberapa sentra produksi. 

"Di minggu pertama Maret, jumlah kabupaten/ kota yang mengalami kenaikan harga beras semakin berkurang," katanya saat rapat Inflasi dengan Pemprov Kalteng secara virtual, Rabu 13 Maret 2024.

Dirinya menjelaskan, kenaikan inflasi dipicu oleh harga beras. Untuk diketahui, lonjakan harga beras dan sejumlah pangan yang menanjak pada Februari 2024.

--page

Kenaikan inflasi volatile food pada Februari 2024 memang dipengaruhi permasalahan pasokan sepanjang tahun ini, akibat menyusutnya lahan padi efek fenomena panas berlebih atau el-nino. Kondisi itu mengakibatkan produksi beras terganggu sehingga mengakibatkan inflasi.

"Inflasi pangan dan kenaikan harga beras menjadi salah satu perhatian bersama. Kabar baiknya komoditas beras berangsur mulai terkendali dengan masuknya masa panen pada bulan ini," tuturnya.

Dirinya menambahkan, berdasarkan perhitungan Badan Pangan Nasional (Bapanas) akan terjadi panen beras di dalam negeri sebanyak 3,5 juta ton pada Maret 2024.

Hal ini membuat ketersediaan pasokan akan memenuhi kebutuhan bulanan konsumsi beras di kisaran 2,5 juta ton.

"Sehingga Maret akan ada tren penurunan harga, termasuk harga internasional pun mulai turun," bebernya.

--page

Hal ini juga terjadi dua sisi, supply domestik dan impor harga mengalami tren turun. Jadi, inflasi pangan di bulan Maret 2024 akan lebih baik terkendali. (MARINI/j)