PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pj Wali Kota Palangka Raya, Hera Nugrahayu, menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di Kota Cantik tidak menjadi penghalang bagi warganya untuk bersatu.

Menurutnya falsafah Huma Betang telah menjadi pondasi yang kuat dalam menyatukan keragaman tersebut.

"Huma Betang, yang dalam bahasa dayak rumah panjang, lebih dari sekadar struktur fisik, ia merupakan simbol dari kebersamaan dan kekeluargaan," katanya, Rabu, 20 Maret 2024.

Dengan semangat itu, masyarakat telah membuktikan bahwa kerukunan umat beragama bukan hanya sekadar kata, tetapi realita yang tumbuh setiap hari.

Falsafah Huma Betang telah lama dikenal sebagai filosofi hidup masyarakat Dayak, yang mengajarkan tentang kehidupan komunal dan gotong royong.

--page

Dalam konteks modern, falsafah ini telah menginspirasi warga Palangka Raya untuk hidup berdampingan dengan damai, meskipun berbeda keyakinan dan latar belakang.

Kerukunan ini terlihat jelas dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan lintas iman, seperti perayaan hari besar keagamaan dan kegiatan sosial bersama.

Warga Palangka Raya telah menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat tali persaudaraan.

"Kita harus terus memelihara dan mengembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Huma Betang. Ini adalah warisan yang akan kita teruskan kepada generasi mendatang sebagai dasar untuk membangun kota yang lebih inklusif dan harmonis," pungkasnya. (HENDRI/j)