PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki potensi kekayaan keberagaman yang mesti dijaga dan dilestarikan oleh setiap warga. Ini supaya kedayatarikan dan keunikannya tidak luntur seiring lajunya perkembangan zaman.

Berbicara tentang daya tarik, setiap wilayah di Kalteng tentu memilikinya. Baik benda maupun tak benda yang lahir dari proses kebudayaan masyarakat setempat, termasuk minuman beralkohol tradisional.

Menariknya, dengan memiliki keragaman kekayaan alam, menjadikan Kalteng sebagai salah satu daerah yang juga memiliki ragam jenis minuman beralkohol tradisional.

Minuman beralkohol sendiri masih dipandang sebagian dari kita sebagai minuman yang menjadi bagian dari budaya Barat. Padahal jika ditelisik bahwa minuman beralkohol merupakan warisan dari tradisi nenek moyang Suku Dayak sejak dahulu kala.

Misalnya di Desa Pandawei, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau. Di wilayah ini, memiliki minuman beralkohol "Anding Madu" yang pengolahannya masih tradisional. Bahan dasarnya berasal dari beras ketan, ragi, gula, cengkeh, ketumbar dan rempah-rempah lainnya, berikut dibuat secara fermentasi.

Salah satu pembuat Anding Madu, Desa Pandawei, Betsi atau kerap disapa Indu Wandri membenarkan bahwa hal demikian dilakukannya selama kurun waktu 40 tahun lebih yang diwariskan oleh orang tuanya. Menurutnya, ini bertujuan untuk menjaga eksistensi minuman alkohol tradisional, ciri khas nenek moyang daerah tersebut.

--page

"Ini Anding Madu ciri khas Desa Pandawei yang masih dibuat secara turun temurun. Saya sudah melakoni pembuatan minuman tradisional ini kurang lebih 40 tahun. Dulu, awal belajar dari almarhum ibu yang sejak lama, membuat Anding Madu secara turun temurun," ujarnya saat dikonfirmasi Borneonews, Sabtu, 24 Maret 2024.

Indu Wandri mengatakan, Anding Madu dibuatnya memakan waktu kurang lebih 10 hari untuk fermentasi bahan dasar. Kemudian, saat memasuki usia 3 bulan, maka cita rasa alkohol akan semakin kuat, bahkan untuk mengurangi kadar alkoholnya dirinya kerap kali menambahkan larutan gula pasir, sehingga cita rasa Anding Madu tetap ada rasa manisnya.

"Untuk pemasaran sampai berbagai wilayah kabupaten tetangga dan paling sering itu ada konsumen dari Kota Palangka Raya yang memesankan untuk acara adat, dan jamuan menyambut tamu. Harganya dibandrol Rp20.000/botol," jelasnya.

Dirinya menambahkan, Anding Madu buatannya tidak menggunakan tembakau karena aroma yang keluar itu berasal dari fermentasi cengkeh. Untuk kendala, yakni proses pembuatan izin usaha minuman alkohol tradisional.

Dirinya berharap agar minuman alkohol tradisional seperti ini dapat menjadi daya tarik wisatawan, terutama mancanegara maupun lokal, sehingga dapat menjadi buah tangan atau oleh-oleh di wilayah tersebut. Selain itu juga, katanya, harganya ekonomis, tidak seperti minuman alkohol lainnya yang dibuat pabrik jauh lebih mahal.

"Anding Madu saya ini tidak menggunakan pengawet, semuanya murni berasal dari alam, bahkan ini sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, resep dan pembuatannya juga sama karena mempertahakan eksistensi," terangnya.

--page

Sementara itu, Kebudayaan Lokal Provinsi Kalteng Wilson menambahkan bahwa, minuman tradisional Kalteng seperti baram, anding, tuak dan lainnya, dianggap termasuk kebudayaan dalam bidang kuliner. Ini karena dibuat dari fermentasi ragi, nasi ketan dan jenis rempah-rempah lainnya.

"Pembuatan minuman alkohol tradisional kita sama seperti membuat tapai. Biasanya minuman alkohol tradisional ini dihidangkan saat acara adat dan keagamaan. Suku Dayak menganggap minuman seperti ini sebagai simbol kebersamaan, mengandung kearifan lokal dan dibuat dengan bahan-bahan tradisional," tandasnya. (MARINI/Y)