PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) menambah stok beras sebanyak 2.500 ton sebagai salah satu upaya menstabilkan harga kebutuhan pokok masyarakat itu pada momen Ramadhan hingga Idul Fitri 1445 Hijriah.

"Saat ini stok yang ada sebanyak 6.000 ton dan tambahan sebanyak 2.500 ton yang akan segera datang. Dengan jumlah stok mencapai 8.500 ton, maka dipastikan kuat dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat hingga pasca-Lebaran," kata Kepala Kantor Bulog Wilayah Kalimantan Tengah Budi Cahyanto, Sabtu 30 Maret 2024.

Selain untuk menjaga harga dan mencegah inflasi, penambahan stok beras ini juga untuk memperkuat ketahanan pangan melalui penyediaan pasokan beras kepada masyarakat.

"Dengan jumlah stok yang mencapai 8.500 ton ini, kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik terhadap ketersediaan beras,” kata Budi.

Budi juga menyebut Bulog terus melakukan upaya pengawasan dan koordinasi dengan pihak terkait guna memastikan distribusi beras berjalan lancar dan stabil di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.

"Langkah-langkah ini terus kita lakukan guna memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat memperoleh bahan pokok dengan mudah dan aman," katanya.

Selain itu, tambahnya pihaknya dan pemerintah daerah juga terus berupaya untuk menjaga stabilitas pasokan beras dan akan terus memantau situasi untuk memastikan kecukupan pasokan beras bagi masyarakat.

Pemerintah Kota Palangka Raya juga telah memastikan stok atau ketersediaan bahan pangan terutama beras aman untuk mencukupi kebutuhan masyarakat selama Ramadan 2024.

Penjabat Wali Kota Palangka Raya Hera Nugrahayu terus berkoordinasi dengan Bulog dan juga agen serta distributor agar stok bahan pangan terutama beras cukup.

--page

"Kami melalui dinas terkait telah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah lain yang memproduksi beras. Salah satu tujuannya untuk memastikan stok beras aman," katanya.

Pihaknya akan mengambil tindakan tegas jika terdapat masyarakat yang memanfaatkan momen Ramadhan untuk mengeruk keuntungan pribadi namun merugikan orang lain, salah satunya dengan menaikkan harga beras di luar kewajaran atau menimbun untuk memainkan harga di pasaran.

ANTARA