BORNEONEWS, Palangka Raya - Berdasarkan pemantauan harga-harga di daerah perdesaan, Nilai Tukar Petani atau NTP gabungan di Kalimantan Tengah pada Maret 2024 mencapai 123,82 atau naik sebesar 0,84 persen dibanding Februari 2024 yang sebesar 122,79.
"Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian atau It yang lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani atau Ib," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Eko Marsoro pada Selasa, 2 April 2024.
Sementara itu kenaikan Ib disebabkan oleh kenaikan dua indeks penyusunnya, yaitu kelompok konsumsi rumah tangga petani atau IKRT dan kelompok BPPBM.
"Kenaikan NTP pada Maret 2024 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada beberapa subsektor, yaitu Hortikultura sebesar 1,63 persen, Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,42 persen dan Perikanan sebesar 0,07 persen," terangnya.
Nilai Tukar Petani atau NTP, kata Eko, adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani atau It terhadap indeks harga yang dibayar petani atau Ib.
--page
"NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar atau terms of trade dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi," jelas Eko.(TESTI PRISCILLA/R)









