SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Guyuran air jatuh dari langit ketika masyarakat mulai berkumpul di Taman Kota Sampit. Orang-orang pun berlarian menuju tenda VIP satu-satunya tempat berteduh di tengah lokasi Festival Tabuh Bedug. 

Malam itu, Selasa, 9 April 2024, selepas magrib pemerintah masih berkutat dengan sidang isbat. Namun mobil bak terbuka dengan hiasan sterofoam, lampu hias, dan sound system telah berjajat di sepanjang Jalan S Parman Sampit. Suara takbir pun sudah menggema disela-sela suara derasnya air hujan.

Ada 2 event dijadwalkan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk menyambut hari kemenangan.

Festival Tabuh Bedug direncanakan di panggung besar Taman Kota Sampit dan pawai takbiran dilepas di sisi selatan Taman Kota, Jalan S Parman.

Namun rencana tersebut harus tertunda karena hujan deras mengguyur. Ketika hasil sidang isbat penetapan 1 Syawal diketuk pun hujan tak terlihat akan reda.

Pukul 20.15 WIB barulah cuaca lebih bersahabat. Meskipun gerimis masih turun, Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor melepas peserta pawai takbiran yang tetap antusias meski telah diguyur hujan. 

"Hari ini dalam suasana sejuk dimana tadi cukup lebat hujan bahkan saat ini masih rintik-rintik tapi karena antusias masyarakat kita khususnya peserta yang antusias melaksanakan pawai takbiran sebagai sukacita menyongsong hari Raya Idulfitri," kata Halikinnor.

Walaupun tertunda, antusias itu tetap tinggi, menanti hingga pelaksanaan pawai takbiran. Halikinnor mengatakan, hal tersebut menunjukkan daerah ini agamis, masyarakat sangat menghormati dan mencintai hari besar keagamaan.

Meskipun kegiatan sempat terdengar akan dibatalkan karena karena beberapa peserta mengalami kerusakan mobil hias dan sounds ystem tak mungkin menyala di tengah hujan, peserta tetap bertahan dengan jumlah sekitar 80 mobil hias. 

Sementara itu, Sekretaris PHBI Kotim Wiyono mengatakan, peserta pawai takbiran 1445 Hijriah di Kotim terdiri dari OPD, masyarakat umum, dan instansi pendidikan. Mulanya peserta terdaftar 60 mobil hias, namun pada hhari H pelaksanaan semakin membludak hingga 80 tim mobil hias. 

"Itu menunjukkan antusias peserta cukup tinggi. Dari OPD 33 peserta, masyarakat umum lebih dari 40 dan instansi pendidikan 5 peserta," kata Wiyono. 

--page

Pawai takbiran kali ini berbeda dari tahun lalu yang dilepas di depan Rumah Jabatan Bupati Kotim. Kegiatan ini sengaja digelar di Taman Kota mengakomodir keinginan masyarakat yang mengharapkan Festival Tabuh Bedug digelar. 

"Agar menghemat waktu awalnya kita rencanakan membuka festival tabuh bedug dulu lalu geser melepas pawai takbiran tetapi karena cuaca hujan, jadi Bupati hanya melepas pawai," ujarnya.

Festival Tabuh Bedug tetap berjalan meski tidak dibuka oleh Halikinnor. Lomba menabuh bedug dengan lantunan takbir dan suara tabuhan itu pertama kali digelar di Sampit mempertandingkan 6 peserta. 

"Ini masih awal dan akan terus berkelanjutan. Semoga tahun depan lebih banyak lagi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)