BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute atau PASPI, Dr Tungkot Sipayung mengatakan bahwa hilirisasi industri kelapa sawit ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan domestik produk berbasis sawit.
"Ini bisa ditunjukkan dengan pemenuhan kebutuhan domestik dari produk berbasis sawit untuk menggantikan produk impor dan peningkatan ekspor sawit yang didominasi produk jadi bernilai ekonomi lebih tinggi," kata Tungkot dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Minggu, 21 April 2024.
Hal tersebut menurut Pakar Ekonomi dan Komoditas Strategis ini akan menciptakan "kue ekonomi" yang lebih besar untuk dinikmati oleh masyarakat Indonesia.
Senada dengan Dr Tungkot Sipayung, Doktor Ekonomi, Universitas Indonesia, Dr Saleh Husin juga menggarisbawahi arti penting hilirisasi.
"Hilirisasi industri sawit dapat memperkuat perekonomian nasional, karena meningkatkan nilai tambah produk ekspor dan menurunkan impor," kata Saleh.
Hilirisasi di dalam negeri, katanya, memerlukan produk hulu yang lebih banyak, sehingga ekspor produk hulu harus menurun.
Sosok yang pernah menjabat Menteri Perindustrian di era Presiden SBY ini menuturkan bahwa apabila ekspor produk hulu sawit bisa turun sebesar 5 persen dan ekspor produk hilir meningkat 15 persen, maka diperkirakan devisa Indonesia akan meningkat sebesar USD 7 miliar per tahun.
"Dengan demikian, Produk Domestik Bruto yang merupakan indikator pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat," tegasnya lagi.
--page
Hilirisasi industri sawit juga menurutnya dapat meningkatkan posisi tawar Indonesia di perdagangan dunia. Menurut Saleh, pembeli minyak kelapa sawit Indonesia terdiri atas dua kelompok, yakni pembeli untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, seperti India dan Tiongkok, dan pembeli yang menjual kembali ke negara lain, seperti Malaysia dan Belanda.
"Negara yang menjual kembali produk kelapa sawit Indonesia mengambil keuntungan sangat besar. Dengan adanya hilirisasi, Indonesia dapat memperkecil ekspor ke negara pedagang kelapa sawit, dengan tidak mengurangi produksi nasional," jelasnya.(TESTI PRISCILLA/R)









