BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produksi dua komoditas bawang merah dan cabai di Kotawaringin Barat akan digenjot pada 2016. Ketersediaan dua produk holtikultura ini secara merata diharapkan dapat menghindari fluktuasi harga yang tidak terkendali.

Kepala  Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kotawaringin Barat Rosihan Pribadi mengungkapkan, pengembangan dan peningkatan hasil produksi cabai dan bawang merah di Kobar tahun 2016, mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Melalui anggaran Tugas Pembantuan dengan Satuan Kerja di Distanak Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kobar tahun ini mendapat alokasi pengembangan cabai seluas 40 hektare.

"Sedangkan untuk program bawang merah, anggaran pengembangannya akan dialokasikan pada tahun anggaran 2017," ujar Rosihan Pribadi, dalam pelatihan budidaya cabai dan bawang merah menggunakan mulsa plastik hitam perak di aula Distanak Kobar, Selasa (31/5).

Selain dukungan anggaran lahan pertanian, lanjut Rosihan, pengembangan dan peningkatan produksi cabai dan bawang merah di Kobar ini juga akan dilakukan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi. Secara ekstensifikasi, beberapa aspek perlu dipertimbangkan dalam penumbuhan sentra produksi komoditas hortikultura. "Yaitu kesesuaian lahan dan agroklimat. Kemudian potensi pasar dan potensi sumber daya manusia," kata Rosihan.

Kemudian melalui upaya intensifikasi, pemantapan sentra produksi akan dilakukan melalui penerapan iptek budidaya yang termuktahir. Salah satunya dengan penggunaan mulsa plastik hitam perak untuk budidaya cabai dan bawang merah. Namun, penerapan teknologi mutakhir seperti itu juga perlu dibarengi dengan pengaturan jadwal tanam para petani.

"Jika semuanya menanam dan panen pada waktu yang berdekatan. Bisa mengakibatkan terjadinya kelebihan pasokan atau over supply," katanya.

Kelebihan pasokan di pasaran akan menjadi persoalan. Sebab, hal itu akan mengakibatkan harga di pasaran jadi merosot. Sebaliknya, ketika pasokan di pasar sedikit, harga komoditas bakal melonjak naik.

"Menurut data survei ekonomi nasional, 2008 hinnga 2012 terjadi adanya kecenderungan peningkatan konsumsi cabai yang besar. Dari 15,486 ons per kapita menjadi 16,529 ons per kapita. Kita butuh stabilitas pasokan dan harga komoditas." (RADEN ARYO/m)