BORNEONEWS, Kotim - Masyarakat adalah garda terdepan dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur (Kotim), tahun lalu, menyebabkan kabut asap yang berdampak di segala bidang. Baik itu ekonomi, maupun transportasi. Karena itu, masyarakat diminta berpartisipasi mencegah kejadian tersebut.

“Di 2015, dampak kebakaran hutan dan lahan sangat terasa. Di antaranya pada bidang transportasi, pencemaran udara mencapai level sangat berbahaya, wabah penyakit ISPA dengan 6.213 kasus dan diare 3.155 kasus. Sehingga hal itulah yang kami antisipasi dengan melibatkan masyarakat sebagai garda terdepan,” ujar Wakil Bupati kotim, Taufiq Mukri, saat menyampaikan sambutannya pada Sosialisasi Pencegahan dan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, di Aula Aquarius, Sampit, Selasa (31/5/2016).

Dalam sosialisasi tersebut, sebanyak 295 peserta yang terdiri dari camat, danramil, kapolsek, lurah, kepala desa, serta perwakilan dari perusahaan besar swasta. Nantinya setiap kelurahan dan desa, dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya tidak membakar lahan. Selain itu, segera memadamkan api yang membakar hutan agar tidak menjalar dan menjadi lebih besar.

Tidak hanya itu, untuk memperlancar dan memudahkan pemdaman kalau terjadi kebakaran, baik keluarahan atau desa juga wajib memiliki alat pemadam kebakaran. Termasuk penambahan armada damkar di Kotim ini.     

Dandim 1015 Sampit, Komandan Satgas Karhutla Kotim, Letkol Kav. Enda Mora Harahap menerangkan, mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan tidak hanya dilakukan oleh aparat, dan petugas damkar, melainkan perlu adanya dukungan dan partisipasi masyrakat.  Selain masyarakat, PBS di Kotim juga diminta bekerja sama agar karhutla dengan kabut asapnya yang tebal tidak kembali terulang tahun ini. 

Dengan adanya rapat koordinasi sekaligus sosialisai pencegahan dan penanganan karhula di Kotim ini, diharapkan pemahaman pencegahan karhula dapat dengan cepat dan tepat dilakukan oleh seluruh pihak.

Kapolres Kotim, AKBP Hendra Wirawan yang juga menjadi pembicara di sosialisasi itu mengatakan, saat ini mereka focus pada pencegahan lebih dulu. Melalui sosialisasi maupun pengertian terhadap masyarakat. "Yang pasti sosialisasi dulu. Namun kalau memang masih tidak mempan, baru kami lakukan penindakan.” (M. HAMIM/N).