BORNEONEWS, Palangka Raya - Agenda TNI Angkatan Udara (AU) di Palangka Raya pekan ini, ternyata tidak hanya melaksanakan Latihan Sikatan Daya 2016 dan menggelar airshow.

Mereka ternyata juga mengemban misi sosial, dengan membantu pemulangan 93 tenaga kerja asal Nusa Tenggara Timur (NTT) korban pemutusan hubungan kerja (PHK), yang terlantar lebih dari sembilan bulan di Palangka Raya. Pemulangan dilakukan pagi hari menggunakan peasawat Hercules C130 atau sebelum latihan dan pertunjukan airshow dimulai.

"Disela-sela melaksanakan latihan Sikatan Daya 2016, kita mendapatkan kehormatan. Ada permintaan bantuan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, supaya memulangkan tenaga kerja mereka yang ada di Kalteng," kata Kepala Staf Koopsau II, Marsma TNI Donny Ermawan di Bandara Tjilik Riwut, Selasa (31/5/2016).

Donny menuturkan, Hercules tersebut sebenarnya juga digunakan untuk latihan. Namun TNI menyisihkan waktu untuk menuntaskan misi sosial itu. "Kita sisihkan untuk melaksanakan operasi ini. Karena ini juga merupakan salah satu tugas kita dalam melaksanalan operasi militer. Jadi selain perang, tugas kita adalah mendukung tugas di daerah," ungkapnya.

Dia menuturkan, Hercules tersebut landing di Bandara Eltari Kupang, NTT sekitar 3 jam setelah take off dari Bandara Tjilik Riwut. Dari 93 orang itu, 70 di antaranya adalah orang dewasa. "Langsung terbang ke NTT dan akan disambut pemerintah setempat. Disini juga ada koordinatornya dari NTT," tuturnya.

Para korban PHK asal NTT itu merupakan bagian dari ratusan mantan buruh PT Agro Lestari (ALS), yang sempat tinggal berbulan-bulan di sebuah kamp di Jalan Badak Palangka Raya, sebelum kemudian diselamatkan Gereja Katolik Palangka Raya bersama Vivat, lembaga gereja katolik internasional yang membidangi kemanusian.

Mereka diungsikan ke gedung serba guna Pastorial Palangka Raya, lalu diberi opsi dipulangkan ke Atambua, NTT, atau tetap di Kalteng. Buruh ALS itu terlantar setelah di-PHK sejak gugatan mereka terhadap perusahaan kalah di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Palangka Raya.

Pada September 2015 mereka juga beberapa kali menggelar aksi massa di Palangka Raya, karena menganggap perusahaan yang beroperasi di Tumbang Jutuh, Kabupaten Gunung Mas itu. (Budi Yulianto/B-10)