SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) gelar parade mengkampanyekan bumi bukan tempat sampah dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada 22 April. 

"Kegiatan sebenarnya ingin kita laksanakan bertepatan hari bumi namun ada kendala sehingga kita undur hari ini," kata Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Adjie Putra Aditya, Minggu, 19 Mei 2024.

Peringatan hari bumi tersebut diawali parade kampanye peduli lingkungan. Sebuah mobil berhias dekorasi bumi diarak diikuti pejalan kaki yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, komunitas Equality People, komunitas peduli lingkungan dan komunitas seni. Pejalan kaki membawa berbagai poster yang berisi imbauan agar masyarakat peduli dengan kebersihan lingkungan sekitar.

Parade tersebut melalui rute Taman Kota Sampit, Jalan S Parman, kemudian berbelok ke Jalan RA Kartini arah SMPN 1 Sampit, Jalan A Yani, kemudian berbelok ke Pelabuhan Sampit, kembali lagi ke Jalan S Parman dan berakhir di titik awal.

Kegiatan berlanjut dengan lomba mewarnai kategori SD, taman baca, game eco print berkelompok, dan life painting seniman sampit tema lingkungan.

Adji mengatakan, kampanye ini dilatar belakangi dampak sampah di daerah ini yang kian meresahkan. Terutama di Sampit penumpukan sampah menimbulkan banjir karena saat hujan saluran irigasi tersumbat. 

--page

"Kegiatan ini sama-sama menyadarkan masyarakat terkait kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya. 

Dirinya yang juga tergabung delam komunitas Equality People berharap pemerintah daerah mendukung gerakan kita seperti ini. Banyak kegiatan komunitas tersebut yang dijalankan dalam rangka menjalankan misi kebersihan yaitu clean up irigasi setiap minggu dan pagelaran seni bertema peduli lingkungan.

"Kegiatan ini akan terus berkelanjutan dan kami berharap pemerintah daerah mendukung," ujarnya. 

Komunitas tersebut membutuhkan fasilitas pengelolaan sampah karena selama ini belum ada pengolahan sampah di Sampit. Sampah hanya dibuang ke depo dan berakhir di TPA, hal tersebut bukan penyelesaian masalah tetapi pemindahan masalah. 

"Target kita harus bisa menyelesaikan masalah sampah ini minimal bisa didaur ulang," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)