BORNEONEWS, Sampit - Wakil Bupati (Wabup) Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati mengajak generasi milenial untuk tidak merasa malu berprofesi sebagai petani.
"Digital farming suatu gagasan atau ide menarik orang-orang agar mau bertani terutama kaum milenial karena seringkali orang mendengar petani seakan-akan orang susah padahal belum tentu seperti itu," kata Irawati, Senin, 20 Mei 2024.
Dirinya baru saja menghadiri panen perdana hasil kelompok tani Margo Mulyo beberapa waktu lalu di Jalan Jenderal Sudirman Km 12, Sampit. Kelompok tani tersebut menjadi pilot project Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk menanam cabai dengan metode digital farming.
Digital farming atau juga dikenal dengan pertanian digital merupakan integrasi teknologi dalam berbagai aspek manajemen peternakan dan pertanian, serta proses lain yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya pangan.
Penerapan digital farming pada tanaman cabai kelompok tani Margo Mulyo memanfaatkan aplikasi untuk memantau tata kelola air, irigasi hingga pemupukan.
Teknologi tersebut memudahkan petani memantau tanaman yang kekurangan nutrisi maupun serangan hama. Sehingga dapat meminimalisir gagal panen. Teknologi tersebut juga menekan biaya perawatan karena lahan yang biasa digarap 7 orang hanya perlu mengerahkan 2 orang.
Ia berharap, kemudahan bertani memanfaatkan teknologi tersebut melecut semangat generasi muda untuk bertani. Karena dengan teknologi hasil pertanian cukup memuaskan. Kelompok Tani Margo Mulyo berhasil meningkatkan produksi cabai 40-50 persen setiap kali panen.
"Justru hasil petani kalau dihitung mengalahkan penghasilan kami yang berbaju dinas. Di Ketapang harga terong Rp7 ribu/kg mereka sekali panen mencapai 50 kg dan dalam seminggu bisa 3 kali panen," ujarnya.
Kotim memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pertanian dari sisi sumber daya alam dimana memiliki lahan untuk perkebunan yang luas yakni 102.391,7 hektare dan jumlah sumber daya manusia yang paling banyak dan berusia produktif sebanyak 212.379 orang.
--page
Kolaborasi dan pertukaran ide adalah kunci dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada di sektor pertanian digital. Sehingga bisa bersama-sama memajukan pertanian kalimantan tengah yang unggul dan berkelanjutan dalam mencapai ketahanan pangan nasional.
"Bertani juga bisa menekan angka kemiskinan di Kotim melalui bertani, apalagi ibukota negara akan berpindah ke IKN kita harus bisa menjadi penyangga pangan," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Rdew)









