BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor berharap percepatan pembangunan pabrik limbah domestik untuk mengolah sampah rumah tangga di daerah ini.
"Saat kita masuk itu bukan gunung semeru tapi gunung sampah. Dulu saat ke sini tidak sebanyak itu, selang 2 tahun sudah menggunung dan mungkin 5 tahun ke depan kalau tidak ada pengolahan limbah Rumah tangga bisa habis luasan ini untuk membuang sampah saja," kata Halikinnor, Senin, 20 Mei 2024.
Limbah domestik di Kotim saat ini hanya dibuang ke depo sampah dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Jalan Jenderal Sudirman Km 14, Sampit.
Kondisi tersebut tidak menyelesaikan masalah sampah rumah tangga yang semakin banyak seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Menurutnya, membuang sampah domestik di TPA bukan solusi melainkan hanya memindahkan permasalahan ke tempat lain. Semakin lama, lahan di TPA tentu akan habis untuk tumpukan sampah rumah tangga.
"Saya sempat cek Depo pelita dan SMPN 3 Sampit di sana menjadi keluhan masyarakat kira-kira bisa tidak dipercepat untuk pabrik pengolahan limbah domestik. Bila ada pabrik limbah rumah tangga di Kotim maka dari daerah lain juga kita usulkan olah di sini," katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Machmoer sempat mengutarakan hal serupa saat pertemuan dengan PT Bumiresik Nusantara Raya dalam rangka persiapan pembangunan pabrik pengolahan limbah B3 medis.
Machmoer mengatakan, semula pembangunan pabrik limbah domestik diusulkan bersamaan dengan pabrik pengolahan limbah B3 medis.
Namun berjalannya waktu, limbah medis didahulukan karena lebih menguntungkan perusahaan dari segi investasi. Sebab pendanaan pembangunan pabrik 100 persen dari perusahaan.
--page
"Produksi sampah domestik atau rumah tangga yang dihasilkan warga mencapai 276 meter kubik per harinya. Hal ini dikarenakan terus bertambahnya jumlah penduduk di Kotim khususnya Kota Sampit. Melihat produksi sampah itu, lahan yang diperlukan untuk menampung sampah domestik setiap harinya seluas 46 meter persegi. Sehingga sampah harus dikelola dengan baik, jika tidak akan memerlukan lahan TPA yang sangat luas," kata Machmoer. (DEWI PATMALASARI/R)









