SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Hasil uji sampel kematian massal babi di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) negatif African Swine Fever (ASF) dan Classical Swine Fever (CSF).

"Namun jika dilihat dari gejala klinis yang khas seperti demam tinggi dan pendarahan memungkinkan kalau kematian babi yang terjadi di Desa Kenyala disebabkan oleh ASF," kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim Endrayatno, Selasa, 21 Mei 2024.

Uji lab yang menunjukkan hasil negatif dipengaruhi beberapa faktor. Pertama saat pengambilan swab tidak terbawa virus yang menyebabkan kematian babi karena jumlah virus di tubuh babi sedikit.

Kedua bisa jadi adanya kerusakan sampel atau terganggunya rantai dingin saat transport sampel jalur darat dari Kotim ke Balai Veteriner (BVET) Banjarbaru Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian tempat uji lab sampel. 

"Dulu kita memang sudah pernah masuk ASF dan hasilnya positif tapi dulu, lalu terakhir ada muncul lagi di daerah kenyala, jadi melihat dari gelajanya memang arahnya kesana, cuma hasil lab negatif," ujarnya.

Pihaknya tidak terlalu banyak mengambil sampel karena sudah berjalan dan banyak babi mati yang sudah dikubur. Sehingga pihaknya mengalami kesulitan mencari sampelnya dan hanya mendapat 4-5 sampel untuk uji lab.

Meski hasil lab negatif, DPKP Kotim tetap menjalankan prosedur penanganan ASF karena gejala yang muncul demikian.

"Kasus yang dulu memang gejalanya sangat spesifik ASF. Sedangkan yang baru ini mungkin karena jaraknya cukup jauh dan transfer virus tidak mudah, dia terkena sinar matahari saja bisa rusak sampelnya," imbuhnya. 

Sebelumnya, akhir Maret 2024 DPKP Kotim menerima aduan sejumlah peternak babi di Kecamatan Telawang mengeluhkan kematian mendadak ratusan babi ternaknya. Bahkan seorang peternak kehilangan puluhan babi yang mati mendadak. Kejadian tersebut mengakibatkan peternak merugi hingga puluhan juta.

Gejala yang muncul terhadap babi tersebut merupakan ciri-ciri terserang virus ASF. ASF merupakan penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. Sehingga serangan penyakit tersebut dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak. 

--page

Endrayatno berharap, kejadian tersebut tak terulang lagi karena sangat merugikan peternak. Tindakan yang harus dilakukan jika ASF menyerang hewan ternak yaitu lokasi kandang yang terkena ASF harus didesinfeksi dan menunggu 45 hari baru boleh memasukan babi lagi ke kandang itu.

Jika ada babi yang sakit tidak boleh saling bersentuhan dengan babi lainnya, termasuk orang yang memelihara, karena virus ini bisa menempel di manusia, walaupun tdk menyebabkan manusianya sakit, bisa nempel di baju. Ia juga mengimbau agar antar peternak tidak saling berkunjung karena bisa menularkan ke babi peternak lain melalui virus yang menempel pada baju.

"Saat ini aksin ASF belum ada. Selain kasus di Telawang juga ada di Pelantaran. Semua lokasi kejadian sudah kami tangani," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)