BORNEONEWS, Palangka Raya - Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara melakukan Pengabdian Kemitraan Internasional 2024.
dalam Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Komunitas Bambu Lestari Mendukung Pengelolaan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL Dalam Mitigasi Perubahan Iklim di Dusun Pamah Semilir, Desa Telagah, Sei Bingei, Langkat.
Kegiatan awal yang dilakukan adalah peresmian Tim pelaksana Akademisi kepada pihak pengelola Komunitas Bambu Lestari yaitu Purnama Ginting sebagai orang yang dipercaya dapat menjaga kelestarian bambu di sekitar kawasan Pamah Semilir dengan memberikan dana sehingga dapat menjadi progress untuk terus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dengan adanya wisata Jendela Bamboe Leuser.
"Adanya kegiatan penanaman bibit pohon yang dilakukan disekitar kawasan wisata yang dapat bermanfaat terhadap vegetasi lahan maupun masyarakat sekitar," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Profesor Rahmawaty dalam rilisnya pada Kamis, 23 Mei 2024.
Dilakukan wawancara dengan mengisi Kuesioner Sikap, Persepsi, Partisipas, Strategi Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Komunitas Bambu Lestari dalam Mitigasi Perubahan Iklim dengan analisis SWOT yang dilakukan oleh Mahasiswa S1 MBKM Kehutanan Universitas Sumatera Utara kepada Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara Tim Pelaksana.
--page
Adapun hasil wawancara yang telah dilakukan yaitu sejarah awal terbentuknya kelompok komunitas bambu lestari ini.
"Kelompok atau komunitas Bambu Lestari ini dikarenakan untuk menjaga kelestarian bambu yang hampir punah dan hanya tersisa sedikit, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan anggota pengurus," terang Prof Rahmawaty lagi.
Pembentukan Kelompok KBL ini dengan cara membagi hasil pendapatan kepada pemilik lahan sebesar 30 persen dan 70 persen untuk anggota pengurus.
"Kelompok KBL ini sudah mempunyai SK Pendirian kelompok karenanya tidak terlalu sulit meyakinkan petani disekitar untuk bergabung dikarenakan sudah adanya dukungan dan bantuan pembiayaan dari pihak akademisi sehingga mereka percaya akan meningkatkan pendapatan mereka," jelasnya.
Selain tempat wisata bambu, usaha lain yang dijalankan oleh kelompok KBL ini yaitu membuat miniatur-miniatur dari bambu seperti miniatur kapal, serta kursi dari bambu sehingga diharapkan adanya permintaan pihak lain yang menempah kerajinan bambu mereka.
"Memang akses yang sulit dijangkau masih terjadi dikarenakan jalan yang belum begitu optimal, belum adanya bantuan pendanaan dari pemerintah atau lembaga swasta untuk pengelolaan kawasan ekowisata disekitar kawasan hutan penyangga taman nasional gunung leuser. Biaya yang digunakan selama pengelolaan wisata bambu ini masih dari dana pribadi sehingga sarana dan prasarananya masih perlu diperbaiki," jelasnya lagi.
Promosi wisata dan hasil kerajinan bambu lewat media Instagram, TikTok dan Facebook sudah dilakukan oleh kelompok KBL dan sampai saat ini masih berlanjut tetapi perlu ditingkatkan sehingga adanya peningkatan jumlah wisatawan yang datang berkunjung.
"Dengan adanya kerja sama ini diharapkan menjadi pembuka jalan terhadap pihak lain yang ingin mendanai Kelompok KBL untuk meningkatkan segala bentuk sarana dan prasarana serta mendukung pengelolaan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser," harap Prof Rahmawaty.
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat ini diisi oleh Prof Rahmawaty selaku Ketua, sementara Prof R Hamdani Harahap dan Dr T Alief Aththorick sebagai anggota, serta dihadiri pula oleh Tim Mitra Forum DAS Wampu yakni Prof Abdul Rauf. (TESTI PRISCILLA/Y)









