BORNEONEWS, Palangka Raya - Kain tenun yang terus dikembangkan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan mendapat pembinaan dari Pemkab Lamandau melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Perindustrian, tetap mempertahankan eksistensi tradisional. Pasalnya, dalam proses produksinya, pengrajin masih menggunakan alat tenun tradisional.
Tentu hal ini mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) karena dapat mempertahankan unsur kearifan lokal dan eksistensi pengrajin lokal. Kain tenun Lamandau merupakan kain daerah yang kerap eksis pada pergelaran pameran perekonomian.
Kain tenun dengan panjang 6 meter memerlukan waktu sekitar 1 bulan untuk pengerjaannya. Yang diberi nama kain tenun Tanilo Sega, memiliki kualiats bagus, lembut dan termasuk salah satu yang paling bagus di Kalteng.
Gubernur Kalteng, H Sugianto Sabran berharap, kedepan, produksi tenun bisa dibuat motif yang lebih menarik lagi, khususnya motif khas Lamandau, sehingga bisa menarik pembeli, baik itu lokal maupun sampai mancanegara.
"Saat ini, Tenun Ikat Tanilo Sega Kabupaten Lamandau merupakan hasil karya penenun lokal kita dan pengrajin masih menggunakan alat tradisional dalam proses pembuatannya," katanya, Kamis, 23 Mei 2024.
--page
Sementara itu, Pj Bupati Lamandau Lilis Suriani saat dibincangin tim Borneonews menyampaikan, kain tenun Lamandau sudah ada 13 motif. Salah satunya, motif pinang sekayu yang sudah memperoleh hak kekayaan intelektual (Haki).
"Pengrajin kain tenun Tanilo Sega juga ikut berpartisipasi dalam HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-44 di Surakarta beberapa hari yang lalu," bebernya.
Dia menambahkan bahwa pihaknya akan terus berbenah dalam melestarikan kain tradisional daerah yang dimiliki. Sehingga, kedepannya, kain tradisional khas Lamandau dapat menjadi salah satu ikon daerah. (MARINI/Y)









