BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Pemkab Kobar) gencar menutup sejumlah lokalisasi liar. Tanpa penanganan khusus, penutupan tempat maksiat itu hanya akan menghambat upaya pencegahan penyebaran penyakit HIV/Aids.
"Tidak sesederhana yang dipikirkan. Lokalisasi memang amoral dan menimbulkan citra buruk bagi masyarakat. Namun, tanpa upaya khusus, penutupan lokalisasi akan menumbulkan dampak lebih parah. Petugas lapangan akan kesulitan menentukan titik pemantauan," ujar Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/Aids (KPA) Kabupaten Kobar, Yusup Ependi, di Pangkalan Bun, Rabu (1/6/2016).
Dengan penutupan lokalisasi, para pria hidung belang penggila seks dan penjaja seks akan menyebar di mana-mana. Dengan adanya lokalisasi, seks bebas tersebut bisa dipusatkan. Sehingga mudah melakukan pemantauan, pembinaan maupun melakukan pencegahan dampak-dampak buruk dengan membagi kondom.
Meski demikian, Yusup mengaku setuju dengan adanya penutupan lokalisasi. Namun tidak serta merta ditutup begitu saja. Setelah dilakukan penutupan, para penjaja seks hanya akan berpindah ke lokasi lain. Seharusnya, sebelum ditutup dilakukan pendampingan secara intensif kepada para pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari.
"Saya mendapat informasi langsung dari PSK, mereka akan kembali lagi ke Kobar paska lebaran (Agustus-November 2016), dengan memilih lokasi baru yang belum terdeteksi," paparnya.
Setelah dilakukan penutupan lokalisasi, mereka akan berada di mana-mana tanpa terdekteksi. Tentu saja hal itu akan sangat mengkhawatirkan, terutama terkait penyebaran penyakit HIV/Aids. "Setelah ini akan banyak PSK bergerak sendiri, kita tidak tahu dimana menemukan mereka, kita bergantung pada informasi resmi, panggilan telepon dan gosip," ucap Yusup.
Selama ini, beber Yusup, di Kabupaten Kobar orang dengan HIV/Aids (ODHA) cukup tinggi. Dari data VCT RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, tahun 2010 terdeteksi pengidap HIV sebanyak 3 orang, tahun 2011 sebanyak 27 orang, tahun 2012 sebanyak 26 orang, tahun 2013 sebanyak 16 orang, 2014 sebanyak 34 orang, tahun 2015 sebanyak 26 orang dengan total kumulatif sebanyak 129 orang. "Dari Januari hingga April 2016 ini, terdeteksi sebanyak 8 orang." (CR-1/N).








