BORNEONEWS, Kasongan - Sejumlah warga desa di dua wilayah kecamatan, Mendawai dan Katingan Kuala mengeluhkan kondisi jembatan penghubung dari Katingan 1 (eks transmigrasi) menuju wilayah Pagatan.
Tidak jarang konstruksi jembatan berbahan kayu ulin ini dipreteli orang-orang yang tidak bertanggung jawab alias maling.

Akibatnya warga yang akan melintasi jembatan penghubung yang membentang di atas anak Sungai Katingan ini kesulitan. Ini karena papan lantai jembatan dari kayu ulin itu banyak yang terlepas diduga diambil maling. 

Menurut Iman Nurjali seorang tokoh warga Desa Mendawai Kecamatan Mendawai, Rabu (1/6/2016), akibat konstruksi jembatan yang berada di Desa Subur Indah Kecamatan Katingan Kuala ini banyak hilang, ia dan warga Mendawai lainnya mengaku khawatir saat melintasi jembatan itu saat hendak pergi ke Pagatan, Ibukota Kecamatan Katingan Kuala.

Sejauh ini ruas jalan dari Desa Mendawai Kecamatan Mendawai menuju Katingan 1 Kecamatan Katingan Kuala sepanjang sekitar 35 km sudah bisa dilewati kendaraan, khususnya roda dua. Posisi jembatan yang rusak itu berada di Desa Subur Indah yang masuk wilayah Kecamatan Katingan Kuala sekitar dua kilo meter dari penyeberangan fery Sungai Katingan.

Biasanya warga Mendawai, maupun Katingan I, Katingan II dan Katingan III saat hendak berurusan ke Pagatan selalu melintasi ruas tersebut. Namun untuk menuju Pagatan harus lebih dulu menyeberangi Sungai Katingan menggunakan fery tradisional, lalu melewati Desa Kampung Tengah dan Kampung Keramat baru kemudian Pagatan.

"Jadi perjalanan dari Mendawai ke Pagatan itu membutuhkan waktu sekitar dua jam, sebab banyak jembatan kecil-kecil yang kondisinya memprihatinkan, seperti jembatan di Desa Subur Indah itu," kata Iman Nurjali.

Namun jika kondisi jalan dan jembatan itu bagus, maka jarak tempuh dari Mendawai-Pagatan diperkirakan hanya 40 menit. Sedangkan kalau menggunakan kelotok memakan waktu sekitar tiga jam.

"Kita berharap kepada pemerintah daerah memperhatikan kondisi jalan dan jembatan mulai dari wilayah Kecamatan Mendawai sampai ke Pagatan itu. Kalaupun belum ada anggaran mungkin kita berharap kepada masing-masing kepala desa yang dilintasi ruas jalan Mendawai-Pagatan supaya bisa memasukkan program perbaikan jalan dan jembatan itu menggunakan dana desa (DD)," harapnya.

Sebab ruas tersebut setiap hari selalu ramai dilewati, terutama musim panen padi dan tanggal muda, ini karena para pegawai mengambil gajih pada Cabang Pembantu Bank Kalteng yang ada di Pagatan, karena di Mendawai sejauh ini belum ada perwakilan bank," katanya. (ABDUL GOFUR/m)