BORNEONEWS, Kotim - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bertekad meminimalkan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bencana yang mengakibatkan kabut asap selama hampir lima bulan pada 2015 itu, diupayakan tidak terulang kembali pada muskim kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bencana yang mengakibatkan kabut asap selama hampir lima bulan pada 2015 itu, diupayakan tidak terulang kembali pada muskim kemarau tahun ini.

“Pengalaman tahun 2015 itu kebakaran hutan dan lahan ini tidak bisa ditangani sendiri. Berdasarkan pengalaman itu kita harus melakukan pencegahan secara bersama-sama agar tidak terulang kembali,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Rukmana Priyatna, saat pelatihan pencegahan Karhutla, di Sampit, Kamis (2/6/2016).

Menurut Rukmana, upaya yang dilakukan pemerintah saat ini, lebih kepada pencegahan sebelum bencana itu terjadi. Kabut asap akibat kebakaran lahan pada 2015 cukup menyiksa masyarakat Kotim dan beberapa daerah lain di Indonesia. Dampaknya terhadap kesehatan masyarakat terutama balita cukup luas. Sehingga butuh pencegahan yang intensif dan melibatkan semua pihak terutama masyarakat.

Masalah kebakaran hutan dan lahan ini juga menjadi perhatian serius Presiden RI Joko Widodo. Kata Rukmana, Presiden langsung menginstruksikan penanggulangan karhutla pada 2016 ini lebih pada upaya pencegahan dengan melibatkan semua unsur masyarakat, termasuk juga aparat TNI/Polri.

“Bencana tidak hanya tugas BPBD tapi tanggung jawab semua. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya itu harus kita ikut sertakan masyarakat. Artinya kalau api muncul masyarakat sekitar lah yang harus turut aktif,” kata Kepala BPBD Kotim tersebut.

Oleh sebab itu, lanjut Rukmana, Bupati meminta kepada pemerintah desa di Kabupaten Kotim memprogramkan pengadaan alat pemadama kebakaran portable. Sewaktu-waktu alat itu bisa digunakan memadamkan api di desa masing-masing.

“Dan kami secara organisasi juga sudah meminta membentuk posko di setiap kecamatan, lurah dan desa. Dulu camat hanya bisa menelepon di sini ada kebakaran, tapi sekarang mereka harus bertanggung jawab memadamkan api, tidak hanya berharap dari BPBD,” katanya.

Untuk mengantisipasi bencana karhutla ini, pemerintah daerah juga melakukan pemetaan kecamatan dan desa yang dianggap rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sehingga memasuki musim kemarau mudah ditanggulangi jika terjadi kebakaran.

Dari perkiraan BMKG, musim kemarau terjadi pada Juli 2016. Untuk itu BPBD Kotim mulai siaga mencegah karhutla.

“Untuk itu saya minta kita semua siap menghadapi kekeringan. Karena pada 2017 kemarau terjadi 7 bulan. Tahun 2015 hanya 4 bulan. Bayangkan saja baru 4 bulan saja sudah luar biasa kebakaran, apalagi sampai 7 bulan,” ucap Rukmana.  (RAFIUDIN/N).