BORNEONEWS, Palangka Raya - Permasalahan Lingkungan hidup muncul dan ditemui di berbagai elemen kehidupan. Mulai dari sumberdaya iklim dan kebencanaan, sumberdaya air tersedia, sumberdaya lahan dan tanah, limbah dan sampah, sumberdaya hutan hingga sumberdaya pesisir.
Hal ini disampaikan Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara atau USU saat menjadi salah satu narasumber dalam Focus Group Discussion atau FGD bertajuk Kolaborasi dan Sinergitas Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Tingkat Tapak yang digelar Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau BPSILHK Aek Nauli pada Senin, 27 Mei 2024 di Grand Kanaya.
"Untuk sumberdaya iklim dan kebencanaan ada masalah lingkungan berupa pencemaran udara, banjir, kekeringan, longsor, puting beliung, kebisingan, peningkatan hama dan penyakit akibat perubahan suhu udara," kata Prof Rahmawaty dalam rilisnya pada Selasa, 28 Mei 2024.
Sementara terkait sumberdaya air tersedia ada permasalahan kualitas dan kuantitas air baik itu air tanah atau sumur,maupun air di sungai dan danau, serta permasalahan mengenai distribusi air, dan jarak dengan sumber mata air.
"Lalu untuk sumberdaya lahan dan tanah itu ada permasalahan terkait lahan kritis, kerusakaan lahan, kebakaran lahan, alih fungsi lahan, erosi tanah, kesuburan tanah, serta pencemaran tanah," tuturnya lagi.
--page
Kemudian untuk limbah dan sampah kondisi tempat pembuangan sampah atau TPS menjadi permasalahan serius, termasuk juga peningkatan limbah B3, munculnya bau menyengat dari TPS, serta penumpukan sampah.
"Kemudian sumberdaya hutan, itu ada masalah konversi hutan, pengurangan hasil hutan, kebakaran hutan, pengurangan fungsi hutan, serta gangguan satwa liar. Sumberdaya hutan ini kan punya manfaat ganda yang dapat menurunkan fungsinya sehingga eksistensinya sebenarnya tergantung kesepakatan bangsa yang tujuan utamanya adalah agar dia rasional dan lestari," tegasnya lagi.
Lalu yang terakhir, lanjutnya, ialah sumberdaya pesisir yang permasalahannya meliputi kualitas air laut dalam artinya pencemaran laut, abrasi pantai, gelombang tinggi, penurunan hasil sumberdaya pesisir, serta kerusakan mangrove. (TESTI PRISCILLA/H)









