BORNEONEWS, Palangka Raya - Komunitas dalam konteks kolaborasi pentahelix berisi sekumpulan orang yang memiliki minat sama dan relevan dengan konsep yang sedang dikembangkan.
"Dalam konteks kolaborasi pentahelix, komunitas berisi sekumpulan orang yang memiliki minat sama dan relevan dengan konsep yang sedang dikembangkan," kata Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara atau USU pada Kamis, 30 Mei 2024.
Hal ini disampaikan Profesor Rahmawaty saat menjadi salah satu narasumber dalam Focus Group Discussion atau FGD bertajuk Kolaborasi dan Sinergitas Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Tingkat Tapak yang digelar Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau BPSILHK Aek Nauli di Grand Kanaya.
"Komunitas berperan sebagai akselerator yang tidak hanya mendukung dengan mempromosikan produk dan layanan yang diproduksi masyarakat, namun juga bertindak sebagai penghubung antar pemangku kepentingan untuk membantu masyarakat dalam keseluruhan proses membangun perubahan sosial," tutur Prof Rahmawaty lagi.
Konsep pentahelix yang menggabungkan peran akademisi, badan usaha atau bisnis, komunitas, pemerintah, dan media menurut Prof Rahmawaty bertujuan untuk mengembangkan inovasi pengetahuan yang memiliki potensi bertransformasi menjadi produk maupun jasa yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.
--page
"Dengan menemukan pola kemitraan melibatkan berbagai pihak dan peran, tujuan tersebut juga mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals atau SDGs dalam mencapai percepatan pembangunan ekonomi, ketahanan pangan dan energi, kesejahteraan, dan perbaikan lingkungan hidup," katanya. (TESTI PRISCILLA/Y)









