BORNEONEWS, Sampit - Menjelang bulan suci Ramadan, beberapa bahan pokok makanan mengalami kenaikan. hal itupun berdampak langsung dengan laju inflasi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang mencapai 0,42% pada bulan Mei 2016 ini, dengan indeks harga konsumen sebesar 123,79%.
Padahal dalam tiga bulan sebelumnya, Kota Sampit mengalami deflasi, yakni pada Februari 2016 sebesar 0,44%, Maret 0,34%, dan April 2016 0,46%.
“Terjadinya inflasi tersbeut akibat adanya peningkatan indeks harga pada hampir semua kelompok pengeluaran, kecuali perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sampit Herry, Jumat (3/6/2015).
Untuk kelompok harga yang mengalami peningkatan tertinggi adalah kelompok sandang sebesar 1,25% dan klompok transport, komunikasi serta jasa keuangan sebesar 0,97%. Kelompok bahan makanan sebesar 0,60%.
Komuditas yang memiliki andil tertinggi terhadap peningkatan indeks harga di Kota Sampit selama Mei 2016 tersbeut yakni angkutan udara, gula pasir, ikan tongkol, dan kacang panjang.
Walaupun laju inflasi di Kota Sampit mencapai 0,42%, namun beberapa komuditas lain masih ada yang mengalami penurunan harga cukup signifikan. Seperti bawang merah, bahan bakar rumah tangga, ikan gabus, ikan bandeng, dan ikan sepat siam.
“Memang tidak semua komuditas atau bahan pokok alami kenaikan harga, karena masih ada yang mengalami penurunan,” ungkap Herry.
Sedangkan, dari sembilan kota di Kalimantan yang menghitung laju inflasi, Kota Sampit berada di urutan tiga, yakni di bawah Pontianak 1,67%, dan Kota Tarakan 0,57%. Sedangkan kota lainnya secara berurutan yaitu Kota Singkawang 0,41%, Banjarmasin 0,30%, Balikpapan 0,13%, Samarinda 0,05%, Palangka Raya 0,02%, dan Tanjung -0.19%. (HAMIM/m)








