PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pendapatan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada 2023 turun akibat referensi CPO yang lebih rendah. Hal ini diungkapkan Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman dalam keterangan resminya pada Senin, 3 Juni 2024.

"Selain pendapatan dari pengelolaan dana, sebanyak 93,70 persen pendapatan BPDPKS bersumber dari pungutan ekspor dan 0,29 persen bersumber dari pendapatan lain-lain," kata Eddy.

Pada tahun 2023, lanjutnya, pendapatan BPDPKS dari pungutan ekspor mencapai Rp33.393 Miliar atau menurun 6,7 persen dari tahun 2022.

"Hal ini disebabkan rata-rata harga referensi CPO tahun 2023 lebih rendah 28 persen yoy," jelas Eddy.

Penurunan penerimaan BPDPKS menurutnya berpengaruh terhadap perlambatan penerimaan PNBP BLU tahun 2023 yang tercatat Rp89.430 Miliar atau terkontraksi 0,52 persen yoy, walaupun pendapatan BLU non-kelapa sawit meningkat.

--page

"Hal ini menunjukkan bahwa BPDPKS merupakan lokomotif penerimaan PNBP BLU," tutur Eddy. (TESTI PRISCILLA/y)