BORNEONEWS, Sampit - Pedagang hewan kurban di Sampit memilih mengembalikan sapi-sapi ke Sulawesi jika tidak habis terjual pada musim Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriah.
"Biasanya kalau tidak habis terjual saat musim kurban kami memilih mengeluarkan biaya untuk mengembalikan sapi ke Sulawesi daripada rugi ratusan juta," kata pemilik pasar sapi dadakan di Jalan HM Arsyad depan Kantor Dinas SDABMBKPRKP, Daeng Beta, Selasa, 11 Juni 2024.
Menurutnya, penjualan hewan kurban tahun ini menurun dari tahun sebelumnya. Ia menduga faktor ekonomi membuat daya beli masyarakat berkurang tahun ini.
Hal itu juga karena Hari Raya Idul Adha bebarengan dengan tahun ajaran baru, sehingga masyarakat fokus mengerahkan keuangannya untuk anak-anak sekolah.
Kondisi lesunya penjualan hewan kurban bahkan dirasakan H-7 Hari Raya Idul Adha. Hanya 1 atau 2 orang mampir sekedar bertanya mengenai sapi-sapi yang ia jual.
--page
Tahun ini, ia menyiapkan 280 ekor sapi yang didatangkan dari Pulau Sulawesi. Namun penjualannya hingga saat ini hanya mencapai 60 persen. Padahal tahun lalu, 7 hari jelah Idul Adha penjualan sudah mencapai 90 persen.
Jika memang sapi-sapi yang ia datangkan tersebut tak habis pada penjualan musim kurban ini, terpaksa dirinya mengembalikan sapi tersebut ke daerah asal.
Menurutnya, jika sapi-sapi tersebut dijual potongan untuk pasokan di pasar harganya akan terpaut jauh dari harga jual hewan kurban, bahkan selisihnya bisa mencapai Rp 10 juta.
"Daripada kita rugi ratusan juta, lebih baik kita kembalikan ke Sulawesi biayanya Rp 50 jutaan," ujarnya.
Namun demikian, ia berharap agar masyarakat semakin banyak mencari hewan kurban mendekati hari Raya idul Adha. Ia juga berharap pemerintah daerah segera membeli hewan kurban seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebagi informasi, sapi yang dijual Daeng berkisar harga Rp18 juta sampai Rp40 juta dengan bobot daging 70 sampai 200 kg. Mayoritas pembeli berminat dengan sapi harga Rp20 juta. (DEWI PATMALASARI/Y)









