BORNEONEWS, Sampit - Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Sutoyo mengungkapkan  baru 76 desa di daerah itu yang sudah membentuk tim barisan sukarelawan kebakaran (Balakar).


“Dari 168 desa di 17 kecamatan ini, baru 76 desa saja yang sudah membentuk tim Balakar. Satu kecamatan ada yang baru satu desa membentuk tim balakar ada juga yang lebih,” kata Sutoyo, Selasa (6/6/2016).


Meski musim kemarau tahun ini diprediksi tidak terlalu lama, namun antisipasi dan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan tetap harus dilakukan. Mengingat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 sangat mengganggu kehidupan m,asyarakat, baik itu dari segi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sektor transportasi.


Guna mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan ini,  pemerintahan desa diwajibkan membentuk tim Balakar. Hal ini sesuai dengan instruksi Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi agar seluruh desa di Kotim,  harus mempersiapkan anggaran pembentukan tim Serbu Api atau Balakar serta perlengkapan peralatannya.


Selain desa, bupati juga meminta kepada perusahaan besar swasta untuk bisa bersama-sama membentuk tim Balakar. Mengatasi Karhutla bukan hanya tanggung jawab BPBD saja, akan tetapi pemerintah desa dan perusahaan besar swsta juga ikut mengatasinya.


Untuk langkah antisipasi dan pencegahan itu perlu dibarengi dengan pelatihan-pelatihan dan kelengkapan peralatan pemadam kebakaran di setiap desa dan perusahaan perkebunana kelapa sawit yang diakui rawan terjadi kebakaran lahan.


”Beberapa wilayah yang sudah membentuk tim Balakar adalah Kecamatan Mentaya Hilir Utara semua desa sudah terbentuk dan ada beberapa desa di kecamatan lain yang sudah membentuk. Nah untuk wilayah lain, kami sudah melakukan koordinasi dan mudah-mudahan semua desa kecamatan lain,  bisa segera membentuk tim Balakar,” ujar Sutoyo.


Untuk diketahui, potensi kerawanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kotim hampir di semua kecamatan. Namun yang paling rawan dan sulit dipadamkan yakni wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kotabesi, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit.


“Delapan kecamatan ini gambutnya sangat tebal, mencapai lima meter. Ini berdasarkan pengalaman pada 2015, saat tim melakukan pemadaman sangat sulit karena gambutnya sangat dalam. Makanya sebelum bencana itu terjadi alangkah baiknya kita mengantisipasi agar tidak terjadi lagi,” ujar Sutoyo. (RAFIUDIN/m)