BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Pada 9 Dzulhijah 1445 H atau 15 Juni 2024, jemaah haji dari seluruh dunia termasuk jemaah haji Indonesia sedang melaksanakan prosesi wukuf di Arafah. Wukuf di Arafah dimulai setelah tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) pada hari Arafah.
Di kesempatan tersebut menjelang wukuf Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kapuas, Hamidhan yang juga bagian dari jemaah haji tahun 1445 H/ 2024 memberikan tausiyah kepada jemaah haji BDJ kloter 6 yang terdiri dari Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur dan Katingan.
Beliau menyampaikan arafah adalah tempat berkumpulnya jemaah haji dari berbagai penjuru dunia dengan bahasa, suku bangsa, adat istiadat, warna kulit yang berbeda-beda, tapi punya satu tujuan yang dilandasi persamaan, yaitu sama-sama hamba Allah.
"Tak ada lagi kesombongan, tak ada lagi status sosial. Semua berpakaian putih-putih menunjukkan kesucian jiwa dan kejernihan pikiran untuk menggapai ridho Allah," kata Hamidhan dalam keterangan tertulisnya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan makna arafah yang diambil dari kata ta’aruf atau saling mengenal menuju saling tolong menolong diantara sesama merupakan momen terpenting dalam berhaji dan menjadi syiar yang membanggakan bagi kita umat Islam.
--page
Di arafah diharapkan akan mengenal jati diri kita sebagai hamba dan mengenal dzat yang maha kuasa Allah SWT. Dengan pengenalan itu kita akan menjadi manusia yang sesungguhnya yang berakhlakul karimah menjadi rahmat bagi sekalian alam.
“Padang arafah ini dulunya Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan tepatnya di Jabal Rahmah dan mengakui dosa-dosa yang pernah mereka lakukan ketika mereka di tempatkan di surga dengan memakan buah dari pohon yang dilarang Allah untuk mendekatinya," ucapnya.
Padang Arafah juga menggambarkan bagaimana umat manusia nanti di padang Mahsyar , diam, cemas dan penuh harap saat menunggu keputusan Allah SWT, surga atau neraka.
“Oleh karenanya mari Jemaah haji agar memanfaatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya dengan memperbanyak zikir, membaca talbiyah, menggaungkan kalimat tauhid, dan membaca Al-Qur’an, membaca istighfar dan berdo’a," imbuhnya.
Ia mengatakan setelah wukuf dilakukan, jemaah haji akan merasakan bebas dari beban dosa kepada Allah, dan yakinlah do’a-doa akan dikabulkan, karena rahmat Allah jiwa akan tentram.
--page
"Dorongan untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak terasa sangat kuat, semua hal ini akan mendekatkan kita pada surganya Allah, dan semoga kita semua mendapatkan predikat haji yang mabrur, haji mabrur tidak ada balasan yang setara kecuali surga," pungkasnya. (DODI/H)









